Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera PBB sedang berkibar.
potret bendera PBB (pexels.com/Niklas Jeromin)

Intinya sih...

  • PBB meminta AS untuk mengakhiri embargo ekonomi terhadap Kuba.

  • Krisis energi di Kuba semakin parah, menyebabkan layanan transportasi publik dan listrik mati.

  • Krisis energi di Kuba disebabkan oleh embargo ekonomi AS yang membuat negara tidak bisa mendapatkan pasokan minyak dari luar negeri.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti krisis energi akut yang sedang terjadi di Kuba. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, saat ini masih terus memantau situasi di Kuba dan akan berupaya untuk memberi bantuan kemanusian ke negara tersebut.

"Sekretaris Jenderal (PBB) telah mengikuti situasi di Kuba dengan sangat cermat. Aku dapat mengatakan bahwa beliau sangat prihatin dengan situasi di Kuba yang semakin memburuk karena kebutuhan minyak terus tidak terpenuhi," kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers, seperti dilansir Anadolu Agency pada Selasa (17/2/2026).

1. PBB ingin Amerika Serikat segera akhiri embargo terhadap Kuba

ilustrasi embargo (unsplash.com/Sandy Millar)

Stephane Dujarric menambahkan, PBB juga ingin Amerika Serikat segera mengakhiri embargo ekonomi terhadap Kuba. Sebab, embargo ini telah membuat Kuba kehilangan sebagian besar pasokan energi nasional. 

Oleh karena itu, Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal PBB ingin negara-negara anggota PBB melakukan dialog dengan AS agar mereka mau menyudahi embargo terhadap Kuba. Sebab, jika embargo terus berlanjut, ekonomi Kuba bakal lumpuh dan kondisi negara bisa menjadi kacau.

“Mengingat seruan berulang-ulang Majelis Umum PBB untuk mengakhiri embargo yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Kuba. (Antonio) Guterres ingin melihat semua pihak kembali melakukan dialog dan menghormati hukum internasional," lanjut Dujarric dalam pernyataannya.

2. Krisis energi di Kuba semakin parah

ilustrasi energi (pexels.com/Tom Fisk)

Saat ini, krisis energi di Kuba semakin parah. Sebab, Kuba tidak bisa mengimpor minyak dari negara-negara tetangga, seperti Venezuela dan Meksiko. Krisis ini membuat sejumlah layanan transportasi publik, khususnya pesawat, tidak bisa beroperasi karena tidak ada pasokan bahan bakar. Di sisi lain, banyak juga rumah-rumah di Kuba yang mati listrik imbas krisis energi yang terjadi.

Krisis energi di Kuba juga menyebabkan penumpukan sampah di Ibu Kota Havana. Sebab, truk-truk kebersihan milik otoritas setempat tidak bisa beroperasi karena tidak ada bahan bakar. Sampah-sampah tersebut berserakan di jalan dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

“Masalahnya (sampah-sampah ini) ada di seluruh kota. (Ini) sudah (terjadi selama) lebih dari 10 hari sejak truk sampah datang,” kata seorang warga bernama Jose Ramon Cruz mengeluhkan penumpukan sampah yang terjadi di Havana, seperti dilansir The Strait Times

3. Krisis energi di Kuba disebabkan embargo ekonomi Amerika Serikat

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrew Patrick Photo)

Krisis energi yang terjadi di Kuba saat ini disebabkan oleh embargo ekonomi dari Amerika Serikat. AS sebetulnya sudah melakukan embargo ekonomi kepada Kuba sejak 1960-an. Namun, sejak Donald Trump menjabat lagi sebagai Presiden pada Januari 2025 lalu, Negeri Paman Sam makin gencar memberikan embargo terhadap Kuba, terutama untuk produk minyak dan gas bumi.

Beberapa waktu lalu, Trump juga melarang negara mana pun untuk menjual minyak ke Kuba. Ia juga mengancam bakal memberi tarif dagang tinggi kepada negara-negara yang tidak mematuhi aturan tersebut. Inilah yang membuat Kuba tidak bisa mendapatkan pasokan minyak dari negara tetangga.

Kuba sendiri memang kerap mengimpor produk minyak dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional. Sebab, produksi minyak mereka tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Kuba mendapatkan sebagian besar pasokan minyaknya dari Venezuela dan Meksiko. Namun, Venezuela sudah berhenti menyuplai minyak ke Kuba sejak pertengahan Desember 2025 lalu. Meksiko sebetulnya masih ingin mengekspor minyaknya ke Kuba. Namun, mereka memutuskan untuk menahan ekspor tersebut karena khawatir akan tarif dari AS. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team