Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pekerja 5 Sektor Ini Terancam Kena PHK 3 Bulan Lagi
ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Said Iqbal mengungkapkan lima sektor industri berpotensi melakukan PHK dalam tiga bulan ke depan akibat kenaikan harga bahan baku impor dan kondisi pasar domestik yang oversupply.
  • Industri tekstil, plastik, elektronik, dan otomotif menghadapi tekanan biaya produksi tinggi karena bahan baku impor mahal serta pelemahan rupiah terhadap dolar yang menekan margin keuntungan perusahaan.
  • Industri semen juga terancam PHK massal akibat kelebihan pasokan di pasar nasional, sehingga KSPI meminta pemerintah menghentikan izin pembangunan pabrik semen baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Partai Buruh, Said Iqbal mengungkapkan sejumlah sektor industri berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam tiga bulan mendatang.

Menurut dia, laporan tersebut berasal dari anggota KSPI di berbagai perusahaan, terutama industri yang terdampak kenaikan harga bahan baku impor hingga kondisi oversupply pasar domestik.

“Saya hanya menyampaikan laporan dari anggota KSPI. Ini anggota KSPI bukan orang lain. Anggota KSPI itu perusahaan. Serikat pekerja di perusahaan. Itu namanya anggota KSPI. Serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT. Tekstil dan produk turunannya, misalnya benang, kapas, kain, dan polyester dan sebagainya,” kata Said Iqbal dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Menurut dia, sektor tekstil menjadi salah satu industri yang paling rentan karena tekanan biaya produksi dan lemahnya kondisi pasar.

1. Industri plastik tertekan akibat bahan baku impor mahal

Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain tekstil, industri plastik disebut Said Iqbal menghadapi tekanan besar akibat kenaikan harga bahan baku impor seperti polimer dan petrokimia.

“Karena harga bahan baku plastik menaik tajam, sehingga industri plastik kan kesulitan. Bahan bakunya impor,” kata dia

Said Iqbal menjelaskan, perusahaan membeli bahan baku menggunakan dolar Amerika Serikat (AS), sedangka produk dijual di pasar domestik menggunakan rupiah. Kondisi itu membuat margin perusahaan tergerus.

“Impor ini kan berarti beli barangnya pakai dolar. Jualnya kan domestik, pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar. Ya buntung lah,” ujar dia.

Said Iqbal juga menilai kenaikan harga plastik membuat daya beli masyarakat turun. Dia mencontohkan pedagang pasar mulai mengurangi penggunaan plastik karena harganya mahal.

“Kalau harga plastik naik sampai 50 persen, daya beli masyarakatnya kan jadi menurun,” katanya.

2. Industri elektronik dan otomotif ikut terancam imbas mahalnya plastik

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Kenaikan harga plastik juga disebut berdampak ke industri elektronik. Sebab, banyak komponen elektronik menggunakan material plastik.

“Itu kan ancaman PHK di industri plastik. Begitu pula di industri elektronik, dia akan kena tuh kalau plastik tetap mahal ya,” ujar Said Iqbal.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat memicu efisiensi tenaga kerja apabila biaya produksi terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Tak hanya elektronik, Said Iqbal menyebut industri otomotif juga menghadapi risiko serupa. Sejumlah komponen kendaraan disebut masih bergantung pada bahan plastik.

“Di industri otomotif, sparkboard atau beberapa komponen secadang juga pakai plastik,” katanya.

3. Industri semen terancam banyak lakukan PHK karena oversupply

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Said Iqbal juga menyoroti kondisi industri semen nasional yang dinilai mengalami kelebihan pasokan atau oversupply. Dia meminta pemerintah menghentikan izin pembangunan pabrik semen baru.

“Nah jadi mereka minta, jangan lagi ada pendirian pabrik-pabrik semen yang baru. Udah oversupply,” ujarnya.

Dia menjelaskan kebutuhan semen domestik sebenarnya sudah tercukupi, tetapi izin pabrik baru terus bermunculan sehingga persaingan semakin ketat.

“Yang terjadi apa? Ya PHK,” kata Said Iqbal.

Dia juga menilai kondisi perang global membuat permintaan semen menurun, sehingga perusahaan berpotensi melakukan efisiensi tenaga kerja.

“Maka akan terjadi efisiensi buruh, pekerja,” kata Said Iqbal.

Editorial Team