Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemerintah Beberkan Alasan Harus Turun Tangan Bereskan Utang Whoosh
Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (WNA) pengguna Kereta Cepat Whoosh pada periode Januari hingga Oktober 2025. (Dok. PT KCIC)
  • Pemerintah turun tangan menyelesaikan utang proyek Kereta Cepat Whoosh karena struktur permodalan awalnya tidak ideal, dengan ekuitas minim dan beban utang besar yang ditanggung PT KAI.
  • Langkah restrukturisasi dilakukan agar operasional Whoosh tetap berkelanjutan, sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap transportasi massal dan menjaga stabilitas keuangan KAI.
  • Proses restrukturisasi utang Whoosh kini memasuki tahap finalisasi, dengan koordinasi antara BPI Danantara dan Menteri Keuangan untuk segera menandatangani kesepakatan penyelesaian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membeberkan alasan pemerintah harus turun tangan untuk menuntaskan masalah utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh).

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menjelaskan langkah restrukturisasi tersebut perlu dilakukan karena struktur permodalan proyek tersebut sejak awal kurang ideal, yakni minim ekuitas namun dibebani utang yang besar, dalam hal ini PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.

"Sehingga ini yang kita selesaikan kan karena kalau mereka ikut menanggung utang yang besar dikhawatirkan nanti operasionalnya nggak sustain gitu kan," kata dia di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta, dikutip Rabu (29/4/2026).

1. Pemerintah harus terlibat

Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (WNA) pengguna Kereta Cepat Whoosh pada periode Januari hingga Oktober 2025. (Dok. PT KCIC)

Dony menegaskan penyelesaian masalah finansial tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada PT KAI. Menurutnya, kapasitas keuangan operator kereta tersebut tidak akan sanggup menanggung beban utang yang besar seorang diri.

"Mau tidak mau tentu harus ada keterlibatan pemerintah di dalam penyelesaian ini karena kalau dibebankan kepada Kereta Api saja tentu Kereta Api tidak cukup untuk menangguh beban finansialnya," ujarnya.

2. Memisahkan operasional dan finansial

Kepadatan penumpang Whoosh di Stasiun Padalarang. (dok. KCIC)

Meski saat ini operasional Whoosh dinilai sudah berjalan dengan baik, pemerintah memfokuskan perhatian pada pembenahan beban finansialnya. Intervensi tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap transportasi massal.

Melalui penyelesaian masalah keuangan tersebut, pemerintah ingin memastikan keberlanjutan operasional KAI sebagai garda terdepan transportasi publik. Masyarakat diharapkan memahami langkah tersebut.

"Jadi supaya masyarakat juga memahami bahwa ini bagian daripada intervensi pemerintah, keberpihakan pemerintah terhadap transportasi massal dan juga tadi memastikan KAI ini juga menjadi sustain operasional terdepan," kata Dony.

3. Skema restrukturisasi utang dalam finalisasi

Potret Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh (kcic.co.id)

Terkait prosesnya, Dony menyebut penanganan utang Whoosh sudah memasuki tahap finalisasi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) dan berharap penandatanganan kesepakatan internal dapat dilakukan dalam beberapa minggu ke depan.

"Tentang Whoosh tinggal masalah finalisasi. Saya ketemu Pak Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Jadi ketemu Pak Menkeu nanti kita simbolik kita akan tanda tangan dan sebagainya," tuturnya.

Dia pun berharap, setelah pengumuman resmi nantinya, polemik mengenai utang Whoosh dapat berakhir karena pemerintah telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan porsinya.

Editorial Team