Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Skema Restrukturisasi Utang Whoosh Ada di Tangan AHY

Skema Restrukturisasi Utang Whoosh Ada di Tangan AHY
Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh. (dok. KCIC)
Intinya Sih
  • Pemerintah telah menyepakati skema restrukturisasi utang proyek kereta cepat Whoosh setelah pembahasan intensif dengan China, dan kini menunggu pengumuman resmi dari Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono.
  • Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui hasil kajian restrukturisasi yang dinyatakan final oleh tim Danantara, dengan rencana penandatanganan dan penyampaian resmi dalam waktu dekat.
  • Total utang proyek Whoosh mencapai Rp120,38 triliun dengan 75 persen dibiayai China Development Bank, sementara biaya proyek membengkak hingga 7,2 miliar dolar AS dari target awal 6 miliar dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Persoalan utang Whoosh menjadi salah satu hal yang harus diselesaikan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Setelah melalui berbagai diskusi dengan China, pemerintah akhirnya mengantongi skema restrukturisasi utang proyek kereta cepat tersebut.

“Solusinya sudah ada. Dan kemarin kita juga sudah sounding, insyaallah sih ini bisa, segera bisa selesai lah,” kata Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani di kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

1. Bakal diumumkan oleh AHY

IMG_4845.jpeg
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Rosan mengatakan, skema restrukturisasi itu sudah di tangan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan akan diumumkan oleh AHY.

“Skemanya ini, ini sedang di fine tuning-nya. Tetapi memang, nanti disampaikan langsung oleh Pak Menko Infra-lah lebih enaknya. Tetapi sudah, sudah ada,” ujar Rosan.

2. Sudah disetujui Prabowo

WhatsApp Image 2025-11-04 at 12.14.34 (1).jpeg
Potret kereta cepat Whoosh. (Dok. PT KCIC)

Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan skema penyelesaian proyek Whoosh telah mencapai tahap final.

Hal itu disampaikan Dony usai melaporkan progres restrukturisasi BUMN kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo menaruh perhatian khusus pada perkembangan proyek Whoosh. Menurut Dony, kajian mengenai restrukturisasi utang kereta cepat tersebut telah selesai dan akan segera ditandatangani.

"Insyaallah, saya dan Pak Menkeu, minggu depan atau 2 minggu lagi akan ketemu dengan teman-teman wartawan, dengan Pak Menkeu untuk menyampaikan penyelesaian dari Whoosh yang sudah selesai, sudah final, ya," kata Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

3. Total utang proyek Whoosh tembus Rp120 triliun

Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh. (dok. KCIC)
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh. (dok. KCIC)

Sebagai informasi, total utang kereta cepat mencapai Rp120,38 triliun. Sebesar 75 persen modal proyek itu dibiayai oleh China Development Bank (CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.

Total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Sementara, target awal hanya 6 miliar dolar AS. Dengan demikian, biaya proyek Whoosh bengkak 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp20,05 triliun (kurs Rp16.707,5 per dolar AS).

Pembayaran cost overrun dirancang dengan skema 60 persen dan 40 persen. Di mana sebesar 60 persen atau 720 juta dolar AS dibayar oleh konsorsium Indonesia, dan 40 persen atau senilai 480 juta dolar AS dibayar konsorsium China.

Konsorsium Indonesia sendiri berdiri dengan nama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dengan kepemilikan saham atas KCIC sebesar 60 persen.

PSBI terdiri dari empat BUMN, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII.

Adapun konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd mengantongi saham KCIC 40 persen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Related Articles

See More