ilustrasi sepatu Nike, sneakers, sepatu olahraga (pexels.com/JD Danny)
Hubungan Nike dengan atlet elite selama puluhan tahun menjadi salah satu kekuatan terbesar perusahaan. Michael Jordan, Serena Williams, Tiger Woods, Cristiano Ronaldo, dan berbagai nama besar lainnya membantu menjadikan logo Swoosh identik dengan prestasi olahraga. Karena itu, ketika hubungan dengan sejumlah atlet besar berakhir, dampaknya bukan hanya berkaitan dengan pemasaran, tapi juga citra Nike di mata penggemar olahraga.
Kehilangan Kylian Mbappé menjadi salah satu pukulan terbaru bagi Nike. Mbappé telah bekerja sama dengan Nike sejak masih berusia sembilan tahun sebelum akhirnya memilih bergabung dengan On. Lamine Yamal juga meninggalkan Nike untuk Adidas, sementara Tiger Woods mengakhiri kerja sama dengan perusahaan tersebut pada 2024. Tim Derdenger menilai atlet memiliki keinginan untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar sekaligus ikut mendorong perubahan, sehingga kesempatan seperti itu dapat memengaruhi pilihan mereka terhadap sebuah merek.
Nike tetap memiliki deretan atlet papan atas, termasuk Rory McIlroy dan Vinicius Junior. Namun, kehilangan beberapa nama besar menunjukkan bahwa perusahaan harus terus mencari generasi baru yang bisa menjadi wajah penting bagi merek tersebut. Tantangannya bukan sekadar mendapatkan atlet terkenal, melainkan membangun hubungan yang membuat seorang atlet merasa identik dengan perkembangan Nike. Pola tersebut pernah berhasil dilakukan Nike bersama Michael Jordan dan menjadi salah satu fondasi kejayaan perusahaan.
Nike sebenarnya masih jauh dari kata selesai. Perusahaan tetap memiliki merek yang sangat dikenal, pelanggan loyal di berbagai negara, serta portofolio atlet yang kuat. Namun, Matt Powell menilai Nike mungkin gak akan kembali menjadi raksasa dengan dominasi seperti sebelumnya, meski peluang untuk kembali mencatatkan pertumbuhan dan profitabilitas masih terbuka. Pemulihan tersebut juga gak bisa dilakukan secara instan karena inovasi produk yang sempat melambat membutuhkan waktu untuk kembali menghasilkan dampak.
Di bawah kepemimpinan Elliott Hill, Nike kini berusaha memperbaiki berbagai persoalan tersebut melalui strategi pemulihan bernama Sport Offense. Perusahaan masih harus menghadapi tantangan di pasar China, lini Jordan, inovasi produk, hingga persaingan dengan merek yang lebih agresif mengikuti tren. Ke depan, kemampuan Nike untuk kembali menghadirkan produk inovatif, membangun hubungan dengan atlet generasi baru, dan memahami perubahan selera konsumen akan menjadi penentu penting apakah perusahaan mampu mengembalikan kejayaannya di pasar sportswear global.