ilustrasi Indonesia (pexels.com/Ekiideung)
Sejumlah analis menilai masyarakat sebenarnya gak hanya butuh janji bahwa semuanya aman. Publik juga ingin melihat penjelasan yang transparan mengenai bagaimana pemerintah akan menjaga subsidi jika harga minyak terus naik. Apalagi, setiap kenaikan US$1 harga minyak per barel bisa memperbesar defisit anggaran hingga sekitar Rp6,7 triliun.
Kurangnya transparansi itu dikhawatirkan bisa memengaruhi kepercayaan investor terhadap Indonesia. Belum lama ini, lembaga pemeringkat seperti Moody's dan Fitch Ratings bahkan mengubah prospek kredit Indonesia menjadi negatif karena menilai ada kekhawatiran terkait konsistensi kebijakan dan transparansi pemerintah. Situasi ini menunjukkan bahwa komunikasi yang jelas sama pentingnya dengan kebijakan ekonomi itu sendiri.
Perang Iran dan kenaikan harga minyak dunia memang bikin banyak orang khawatir terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah mencoba menunjukkan rasa percaya diri supaya masyarakat gak panik berlebihan. Namun di sisi lain, para ekonom mengingatkan bahwa tekanan terhadap subsidi dan anggaran negara tetap nyata dan gak bisa dianggap sepele.
Kondisi ini akhirnya memperlihatkan dua sisi Indonesia yang berbeda. Masyarakat dan pelaku usaha mulai bersiap menghadapi kemungkinan krisis energi, sementara pemerintah terus menampilkan optimisme bahwa situasi masih terkendali. Ke depannya, bukan cuma kebijakan ekonomi yang dibutuhkan, tapi juga komunikasi yang lebih terbuka supaya kepercayaan publik tetap terjaga.