Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Naik 6 Persen

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Naik 6 Persen
ilustrasi harga miyak global (pexels.com/Erik Mclean)
Intinya Sih
  • Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 20 April 2026, menyebabkan harga minyak global melonjak hingga 6 persen akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
  • Penutupan ini terjadi setelah Amerika Serikat menyita kapal minyak Iran di wilayah tersebut, memperburuk ketegangan dan mendorong kenaikan harga Brent serta WTI.
  • Sebelumnya, pembukaan Selat Hormuz sempat menurunkan harga minyak lebih dari 10 persen dan meningkatkan indeks saham global seperti S&P 500.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Harga minyak global dikabarkan naik 6 persen pada Senin (20/4/2026). Kenaikan ini terjadi karena Iran memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz. Kenaikan ini juga diperparah karena Amerika Serikat menyita kapal minyak Iran yang sedang berlayar di selat tersebut.

Kenaikan ini membuat harga minyak mentah Brent meroket menjadi 95.89 dolar AS atau sekitar Rp1,6 juta per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate juga naik menjadi 89,31 dolar AS atau Rp1,5 juta per barelnya.

1. Harga minyak global sempat anjlok drastis karena Iran membuka Selat Hormuz

Peta topografi Selat Hormuz yang memperlihatkan wilayah perairan antara Iran dan Semenanjung Arab dengan detail garis pantai dan batas negara.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Sebelumnya, harga minyak global sempat menurun drastis sebesar lebih dari 10 persen pada Jumat (17/4/2026). Ini terjadi karena Iran bersedia membuka Selat Hormuz secara penuh. Pembukaan ini membuat kapal-kapal bisa leluasa berlayar untuk memasok minyak dari Timur Tengah ke pasar global.  

Di lain sisi, pembukaan Selat Hormuz juga membuat harga saham global melonjak. Sebagai contoh, harga saham The S&P 500 naik sebesar 1,2 persen. Harga saham yang berasal dari AS juga naik 12 persen. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak Maret 2026 lalu. 

2. Donald Trump berterima kasih kepada Iran karena sudah membuka Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di Gedung Putih.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di Gedung Putih. (commons.wikimedia.org/The Trump White House)

Keputusan Iran untuk membuka Selat Hormuz ini diapresiasi oleh Presiden AS, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Trump berterima kasih kepada Iran karena telah membuka Selat Hormuz sehingga kapal-kapal bisa berlayar di sana dengan bebas.

“Iran baru saja mengumumkan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui sepenuhnya. Terima kasih! Namun, blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya dan efektif hanya untuk Iran sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen,” tulis Trump di Truth Social.

3. Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel

Ledakan besar dengan asap tebal membumbung di tengah kawasan perkotaan padat saat senja, menggambarkan situasi serangan udara.
ilustrasi serangan (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Namun, Iran kini memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz secara penuh. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes karena AS masih memblokade semua pelabuhan milik mereka. Imbas blokade ini, kapal-kapal jadi tidak bisa masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.

Sebagai informasi, Iran mulai menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Iran mulai meningkatkan pengamanan dan melarang kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, untuk berlayar di sana.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini lantas membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global terhambat. Ini terjadi karena banyak kapal yang tertahan di selat tersebut sehingga tidak bisa mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Hambatan ini praktis membuat harga minyak global sempat melambung tinggi. Pada Maret lalu, misalnya, harga minyak global naik hingga mencapai 120 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel. Itu merupakan kenaikan harga minyak tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More