Jakarta, IDN Times - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait masyarakat desa yang dinilai tidak terlalu terdampak pelemahan dolar AS menimbulkan reaksi keras publik. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyayangkan pernyataan tersebut karena dinilai kurang tepat disampaikan di tengah kondisi pasar keuangan yang masih sensitif.
Mengacu pada data Bloomberg pada perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.613,5 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.
“Jujur cukup disayangkan sih statement itu, apalagi munculnya pas setelah The Economist baru saja menyoroti soal kualitas governance dan ruang fiskal kita. Timing-nya kurang ideal, dan di kondisi market yang lagi fragile begini bobot satu kalimat dari pucuk pimpinan jadi berkali lipat,” ujar Yusuf kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).
