Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pernyataan Prabowo soal Rupiah-Dolar Dinilai Tak Peka Situasi Pasar
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)
  • Pernyataan Presiden Prabowo soal masyarakat desa tak terdampak pelemahan dolar menuai kritik karena dinilai tidak sensitif terhadap kondisi pasar keuangan yang sedang rapuh.
  • Ekonom CORE menegaskan pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan biaya impor dan harga kebutuhan pokok, membuat masyarakat desa justru paling rentan terhadap inflasi.
  • Yusuf Rendy menyoroti pentingnya konsistensi komunikasi antarpejabat agar kepercayaan pasar terjaga, serta mendorong pemerintah fokus pada narasi stabilitas ekonomi dan transparansi kebijakan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait masyarakat desa yang dinilai tidak terlalu terdampak pelemahan dolar AS menimbulkan reaksi keras publik. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyayangkan pernyataan tersebut karena dinilai kurang tepat disampaikan di tengah kondisi pasar keuangan yang masih sensitif.

Mengacu pada data Bloomberg pada perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.613,5 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.

“Jujur cukup disayangkan sih statement itu, apalagi munculnya pas setelah The Economist baru saja menyoroti soal kualitas governance dan ruang fiskal kita. Timing-nya kurang ideal, dan di kondisi market yang lagi fragile begini bobot satu kalimat dari pucuk pimpinan jadi berkali lipat,” ujar Yusuf kepada IDN Times, Sabtu (16/5/2026).

1. Sejumlah komoditas pangan masih impor dan beban kenaikan impor ditransmisikan ke konsumen

Prabowo di acara peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). (IDN Times/M Ilman Nafi'an)

Ia menjelaskan, secara teknis anggapan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dinilai kurang tepat. Meski transaksi sehari-hari dilakukan menggunakan rupiah, struktur ekonomi domestik masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor.

Yusuf mencontohkan sejumlah komoditas penting seperti pupuk untuk petani, gandum untuk industri makanan, bahan baku obat-obatan, bahan bakar minyak (BBM), hingga pakan ternak yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor akan meningkat dan pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi dan otomatis kenaikan harga barang.

Dengan demikian, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat. Petani misalnya, harus membeli pupuk dengan harga lebih mahal karena bahan bakunya impor. Kondisi serupa juga dirasakan pelaku usaha makanan yang menggunakan gandum impor, hingga peternak yang bergantung pada pakan ternak dari luar negeri. Akibatnya, tekanan kenaikan biaya tersebut berisiko diteruskan menjadi harga jual yang lebih tinggi kepada konsumen.

“Begitu rupiah melemah, cost naik dan pasti ditransmisikan ke harga konsumen, classic imported inflation. Justru desa yang paling rentan karena daya tawarnya paling terbatas,” katanya.

2. Ada gap framing antara pemerintah dan realitas yang ada

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Menurut dia, persoalan utamanya bukan pada penggunaan dolar dalam transaksi sehari-hari, melainkan struktur ekonomi Indonesia yang masih import-dependent sehingga rentan terhadap tekanan nilai tukar.

Lebih lanjut, Yusuf menilai keresahan pasar bukan semata berasal dari substansi pernyataan tersebut, tetapi dari sinyal yang ditangkap investor terkait konsistensi komunikasi pemerintah.

“Ada gap antara framing pemerintah dengan realita yang dilihat investor. Itu yang membuat CDS melebar dan yield SBN naik belakangan,” ungkapnya.

3. Konsistensi komunikasi antarpejabat harus diperbaiki agar tak buat pasar keuangan goyang

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Meski demikian, Yusuf mengakui pemerintah dan otoritas moneter sebenarnya telah menjalankan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasar. Bank Indonesia (BI), kata dia, telah melakukan triple intervention untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara komitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap PDB juga masih dipertahankan.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia dinilai masih berada pada level yang memadai untuk meredam volatilitas jangka pendek.

“Hal-hal seperti inilah yang seharusnya jadi narasi pemerintah ke publik dan ke pasar, bukan justru framing yang menafikan masalah,” jelas Yusuf.

Di sisi lain, ia menilai masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dibenahi pemerintah, terutama terkait konsistensi komunikasi antarpejabat, kualitas belanja negara, serta disiplin penyampaian pernyataan publik dari level tertinggi pemerintahan.

Menurut Yusuf, pengakuan terhadap area perbaikan justru dapat meningkatkan kredibilitas pemerintah di mata pasar. “Karena di titik confidence selemah sekarang, expectation management itu sudah jadi instrumen kebijakan tersendiri,” tutupnya.

4. Masyarakat desa disebut tak terpengaruh pelemahan dolar AS

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Koperasi Merah Putih secara simbolis di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). (IDN Times/Muhammad Ilman Nafian)

Presiden Prabowo Subianto menjawab kritik nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini berada di angka Rp17.600. Mulanya, Prabowo merasa heran ada anggapan Indonesia akan menjadi negara tumbang.

"Sekarang ada yang selalu entah apa, saya gak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, ya kan rupiah begini, rupiah begini dolar begini," ujar Prabowo saat peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Prabowo mengatakan, rakyat di desa tidak menggunakan rupiah. Oleh karena itu, dia memastikan, Indonesia dalam keadaan baik. "Orang, rakyat di desa gak pakai dolar kok, ya kan pangan aman energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan, Indonesia memiliki politik luar negeri bebas aktif, sehingga tidak mau memiliki musuh dengan negara mana pun.

"Budaya Indonesia kita hormat dan kita tidak mau ada musuh, makanya saya canangkan begitu saya jadi Presiden politik luar negeri, Indonesia adalah politik bebas aktif non-block, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik," imbuh Prabowo.

Editorial Team