Ariston menjelaskan, pelemahan mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama konflik yang masih berkecamuk di Timur Tengah, mendorong harga minyak mentah dunia tetap tinggi, mendekati 100 dolar AS per barel.
Rupiah KO ke Level Rp17.613,5 per Dolar AS, Rekor Terendah dalam Sejarah

- Rupiah anjlok ke Rp17.614 per dolar AS, mencetak rekor terendah akibat tekanan global dan konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
- Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga barang konsumsi di dalam negeri, menekan daya beli masyarakat, serta diperparah oleh repatriasi dividen yang meningkatkan permintaan dolar.
- Prospek pemulihan rupiah bergantung pada stabilitas global dan kebijakan suku bunga AS, sementara Bank Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menahan depresiasi mata uang ini.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026), menandai posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan pasar global, khususnya terkait kondisi konflik Timur Tengah, serta sentimen ekonomi dalam negeri yang masih menghadapi berbagai tantangan.
"Iya bisa dibilang terlemah (sepanjang sejarah)," kata Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).
1. Lesunya rupiah dipicu konflik Timur Tengah

"Kenaikan harga minyak mentah memicu inflasi global, termasuk di Amerika Serikat. Pasar pun menyoroti kebijakan The Fed, yang cenderung menahan diri untuk memangkas suku bunga acuan. Kondisi ini membuat yield obligasi pemerintah AS naik, sekaligus memperkuat dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah," ujar Ariston.
2. Pelemahan rupiah berujung pada lonjakan harga barang yang dikonsumsi

Tak hanya itu, pelemahan rupiah juga berdampak terhadap kondisi domestik, karena kenaikan harga minyak memicu lonjakan harga barang konsumsi, membebani daya beli masyarakat, dan menambah tekanan pada rupiah.
"Tekanan tambahan datang dari repatriasi dividen yang terjadi pada Mei, yang meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik," ujar Ariston.
3. Rupiah sulit kembali ke level Rp15 ribu dolar AS

Ke depan, pelemahan rupiah diperkirakan akan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah dan ekspektasi suku bunga AS. Di tengah tingginya permintaan dolar, Bank Indonesia menghadapi tantangan besar untuk meredam depresiasi rupiah. Tekanan ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga pasar global menunjukkan stabilitas dan harga minyak mulai terkendali.
Meski demikian, BI diyakini memiliki strategi dan timing tersendiri untuk melakukan intervensi jika tekanan terus berlanjut. Menurut Ariston, rupiah masih sulit kembali ke level Rp15 ribu per dolar AS dalam waktu dekat karena gejolak global masih meningkat.
"Pergerakan rupiah menuju Rp15 ribu agak jauh (sulit), kecuali jika potensi konflik global mereda," kata Ariston.


















