Jakarta, IDN Times - Para petani di India kini tengah menghadapi tantangan berat akibat rencana kerja sama perdagangan besar antara New Delhi dengan Amerika Serikat (AS) dan tuntutan jaminan harga jual yang belum terpenuhi. Kesepakatan bernilai ratusan miliar dolar tersebut dikhawatirkan akan membuat produk impor murah membanjiri pasar dan mematikan usaha tani lokal. Kondisi ini memicu gelombang protes besar pada Senin (9/3/2026), karena masyarakat agraris merasa kedaulatan pangan mereka sedang terancam oleh kepentingan perusahaan besar.
Selain masalah perdagangan, lonjakan harga minyak dunia juga semakin mencekik para petani yang sedang bersiap menghadapi musim panen raya. Kenaikan harga diesel untuk operasional mesin pertanian membuat biaya produksi membengkak, sementara harga jual hasil panen mereka belum mendapatkan perlindungan hukum yang pasti dari pemerintah. Gabungan dari berbagai masalah ekonomi ini membuat nasib jutaan petani kini berada di ujung tanduk di tengah situasi dunia yang tidak menentu.
