Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PT SMI Bidik Penerbitan Obligasi Rp10 Triliun pada 2026
Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah dan Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti dalam Media Briefing PT SMI. (IDN Times/Triyan)
  • PT SMI berencana menerbitkan obligasi rupiah senilai Rp8–10 triliun pada 2026 sebagai bagian strategi pendanaan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
  • Sejak 2014, PT SMI rutin menghimpun dana lewat berbagai instrumen surat utang domestik dan telah mengumpulkan lebih dari Rp50 triliun hingga 2025.
  • Ke depan, PT SMI fokus pada diversifikasi sumber pendanaan serta membuka peluang partisipasi masyarakat dalam pembiayaan proyek berdampak ekonomi dan sosial tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) menyiapkan rencana penerbitan obligasi denominasi rupiah pada 2026 dengan nilai indikatif Rp8 triliun hingga Rp10 triliun.

Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti mengatakan, penerbitan tersebut merupakan bagian dari strategi pendanaan perseroan untuk mendukung pembiayaan infrastruktur. Langkah ini sekaligus menjadi katalis percepatan pembangunan berkelanjutan melalui skema pembiayaan yang berkesinambungan.

“Untuk rencana penerbitan obligasi tahun 2026, nilainya di kisaran Rp8 triliun sampai Rp10 triliun,” ujar Aradita dalam media briefing di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

1. Aktif terbitkan obligasi tematik

Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah dan Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti dalam Media Briefing PT SMI. (IDN Times/Triyan)

Aradita menjelaskan, sebelumnya PT SMI juga aktif menerbitkan obligasi tematik, termasuk sustainability bond. Menurut dia, minat investor terhadap instrumen berbasis keberlanjutan hingga kini masih terjaga.

"Respons positif tersebut tercermin saat perseroan menerbitkan sustainability bond pada tahun lalu. Instrumen itu mendapat sambutan baik, baik dari investor institusi maupun investor ritel," tegasnya.

2. PT SMI masuk pasar obligasi sejak 2014

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia bercerita sejak pertama kali masuk pasar obligasi pada 2014, PT SMI tercatat rutin menghimpun dana melalui berbagai instrumen surat utang domestik, mulai dari green bond, sustainability bond, sukuk mudharabah, hingga zero coupon bond yang diterbitkan pada 2025.

Hingga 2025, total dana yang dihimpun perseroan dari penerbitan dalam negeri telah melampaui Rp50 triliun. Capaian ini memperkuat posisi PT SMI sebagai salah satu emiten surat utang yang aktif dan kredibel di pasar domestik.

3. Diversifikasi sumber pendanaan akan terus dilakukan

Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Dengan demikian, untuk ke depan diversifikasi sumber pendanaan akan menjadi fokus utama. Selain memperluas kerja sama dengan lembaga keuangan dan pemerintah, PT SMI juga membuka peluang partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur.

“Dengan portofolio pembiayaan yang memberikan multiplier effect besar terhadap perekonomian, kami memastikan setiap langkah pendanaan tetap selaras dengan kebutuhan pembangunan,” kata Aradita.

4. Mayoritas investor menyerap obligasi dari kalangan korporasi dan lembaga jasa keuangan

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)

Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah mengatakan, selama ini, mayoritas investor yang menyerap obligasi tersebut berasal dari kalangan korporasi dan lembaga jasa keuangan.

“Investor obligasi yang diterbitkan PT SMI saat ini sebagian besar merupakan korporasi, seperti perbankan, dana pensiun, dan perusahaan asuransi,” ujarnya.

Namun demikian, Reynaldi menuturkan, terdapat perbedaan dalam rencana penerbitan obligasi tahun ini. Perseroan ingin merangkul partisipasi yang lebih luas dari masyarakat.

Reynaldi menambahkan, PT SMI selalu memilih proyek yang memiliki multiplier effect tinggi. Langkah ini dilakukan agar pembiayaan yang disalurkan tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga berdampak positif bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami melihat dampaknya bagi masyarakat, seperti pembangunan sekolah, rumah sakit, hingga pembangkit listrik minihidro. Jadi, kami tidak semata-mata mempertimbangkan sisi keuntungan finansial, tetapi juga dampak yang dihasilkan,” ujarnya.

Editorial Team