Mengenal Junk Bond, Obligasi Risiko Tinggi dengan Imbal Hasil Besar

- Mekanisme junk bond serupa obligasi pada umumnya
- Risiko tinggi menjadi alasan imbal hasil junk bond lebih besar
- Peringkat kredit jadi faktor penting dalam junk bond
Jakarta, IDN Times - Junk bond atau obligasi imbal hasil tinggi dikenal sebagai instrumen utang yang memiliki risiko lebih besar dibandingkan obligasi berperingkat investasi. Instrumen tersebut umumnya diterbitkan oleh perusahaan yang sedang mengalami tekanan keuangan dan menawarkan imbal hasil tinggi sebagai kompensasi atas risiko gagal bayar.
Dilansir Investopedia, risiko junk bond dinilai lebih tinggi karena peringkat kreditnya berada di bawah kategori investment-grade. Peringkat di bawah BB diklasifikasikan sebagai spekulatif atau junk.
Pergerakan minat investor terhadap instrumen ini juga kerap digunakan sebagai indikator sentimen pasar, terutama untuk melihat kecenderungan investor dalam mengambil risiko.
1. Mekanisme junk bond serupa obligasi pada umumnya

Secara teknis, junk bond bekerja dengan mekanisme yang sama seperti obligasi korporasi lainnya, merupakan surat utang yang diterbitkan perusahaan dengan janji membayar bunga secara berkala dan mengembalikan pokok utang pada saat jatuh tempo. Obligasi sendiri merupakan instrumen utang berpendapatan tetap yang digunakan perusahaan maupun pemerintah untuk menghimpun dana.
Investor yang membeli obligasi pada dasarnya meminjamkan dana kepada penerbit dan akan menerima kembali pokok investasi pada tanggal jatuh tempo, disertai pembayaran bunga atau kupon selama masa berlaku obligasi.
Sebagai ilustrasi, obligasi dengan kupon tahunan 5 persen akan memberikan imbal hasil 5 persen per tahun. Jika nilai nominal obligasi sebesar 1.000 dolar AS, maka bunga yang diterima investor mencapai 50 dolar AS per tahun hingga jatuh tempo.
2. Risiko tinggi menjadi alasan imbal hasil junk bond lebih besar

Junk bond dikategorikan sebagai obligasi dengan risiko gagal bayar yang tinggi. Instrumen ini banyak diterbitkan oleh perusahaan rintisan atau perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan.
Untuk menarik minat investor, penerbit junk bond menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan obligasi berperingkat kredit baik. Tingginya imbal hasil tersebut menjadi kompensasi atas risiko tambahan yang harus ditanggung investor.
Dari sisi kelebihan, junk bond memberikan potensi imbal hasil lebih besar dibandingkan sebagian besar instrumen utang berpendapatan tetap lainnya. Harga junk bond juga berpeluang naik signifikan apabila kondisi keuangan penerbit membaik. Selain itu, pergerakan instrumen ini sering digunakan untuk membaca kecenderungan risiko di pasar.
Namun, junk bond juga memiliki sejumlah kekurangan. Risiko gagal bayar relatif lebih tinggi, harga cenderung berfluktuasi, dan aktivitas pasar yang terlalu ramai dapat menandakan kondisi pasar yang sudah terlalu agresif terhadap risiko.
3. Peringkat kredit jadi faktor penting dalam junk bond

Kinerja keuangan perusahaan sangat memengaruhi peringkat kredit obligasi yang diterbitkannya. Perusahaan dengan kondisi keuangan yang membaik berpeluang memperoleh peningkatan peringkat kredit, yang dapat mendorong kenaikan harga obligasi dan menarik minat investor.
Sebaliknya, perusahaan dengan kinerja buruk cenderung memiliki peringkat kredit rendah atau mengalami penurunan peringkat. Kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati dan mendorong perusahaan menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik pendanaan.
Perbedaan peringkat kredit ini menyebabkan obligasi berperingkat baik umumnya menawarkan bunga lebih rendah dibandingkan obligasi berperingkat rendah. Karena itu, peringkat kredit menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan investor dalam menilai risiko junk bond.


















