PTPP-ADHI dan Nindya Karya-Brantas Abipraya Dimerger Bulan Depan

- Empat BUMN karya akan dimerger: PTPP dengan ADHI serta Nindya Karya dengan Brantas Abipraya, sebagai bagian konsolidasi tujuh entitas BUMN karya.
- BP BUMN menargetkan merger empat perusahaan tersebut rampung paling lambat akhir November 2026. Entitas yang bertahan masih dikaji berdasarkan keuangan, organisasi, dan SDM.
- Konsolidasi WIKA dan Waskita memerlukan waktu lebih lama karena persoalan keuangan. Utang WIKA sekitar Rp34 triliun, sementara fokus bisnis Waskita masih dikaji.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak empat dari tujuh entitas BUMN karya akan dilebur alias merger, sebagai bagian dari konsolidasi entitas BUMN.
Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan empat perusahaan itu adalah PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), serta PT Nindya Karya (Persero) dengan PT Brantas Abipraya (Persero).
“Jadi yang merger dulu yang Nindya dan Brantas, sama ADHI dan PP,” kata Dony usai menghadiri Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Dony menargetkan, proses merger itu bisa selesai pada November 2026.
“Nah, ini kan kita harapkan nanti paling telat itu di akhir November itu sudah selesai, yang empat tadi. Yang dua ini karena restrukturisasi, saya lagi menilai lagi nih restrukturisasi itu terutama yang dua perusahaan,” ucap Dony.
Meski begitu, Dony belum membeberkan di antara empat perusahaan tersebut, BUMN mana yang akan menjadi entitas bertahan alias surviving entity. Dia mengatakan, hal itu masih dalam kajian.
“Surviving entity-nya lagi dikaji oleh teman-teman. Ya tentu dilihat dari berbagai macam aspeknya. Kita tidak terlalu fokus kepada siapa menang, dan bukan menang dan kalahnya. Tapi bagaimana kemudian mereka bersatu menjadi perusahaan yang baik,” tutur Dony.
Menurutnya, perusahaan yang akan menjadi surviving entity itu harus dikaji dari sisi kinerja keuangan dan kapasitas internal, mencakup tata kelola organisasi hingga sumber daya manusia (SDM).
“Lagi dikaji mana dari financial aspect maupun dari internal capabilities-nya tadi. Apakah organisasinya, orangnya semua di asesmen. Nah nanti tentu akan diumumkan,” ujar Dony.
Dengan demikian, tersisa tiga BUMN karya dalam agenda konsolidasi BUMN. Ketiga perusahaan itu adalah PT Hutama Karya (Persero) atau HK, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).
Terkait WIKA dan Waskita, menurut Dony membutuhkan proses yang lebih lama dikarenakan persoalan keuangan kedua BUMN tersebut.
“WIKA ini utangnya kan besar, tapi underlying-nya enggak cukup untuk menurunkan utang. Kurang lebih utang WIKA itu Rp34 triliun. Tapi enggak ada lawannya, kalau enggak ada lawannya, ya Pak Dirut yang baru juga pusing juga, ya kan? Karena dulu ada tagihan kepada kereta cepat, macam-macam itu yang di WIKA ini,” ujar Dony.
Terkhusus untuk Waskita Karya, menurutnya dia masih mengkaji soal bisnis yang akan menjadi fokus Waskita ke depannya.
“Waskita itu dia punya aset jalan tol kan, waskita tol road.Kita lagi melihat apakah nanti yang akan bertahan tolnya saja. Ini kan pertimbangannya enggak bisa asal-asalan, ya,” kata Dony.
























