Ilustrasi MBG. (IDNTimes/Tunggul Damarjat)
Dalam artikelnya, The Economist menyoroti dua program unggulan pemerintahan Prabowo, yakni makan bergizi gratis (MBG) dan pembentukan 80 ribu koperasi desa. Media itu menyebut, kedua program tersebut diperkirakan menghabiskan sekitar 10 persen anggaran negara.
Menurut The Economist, sebelum perang Iran sekalipun, pengeluaran sebesar itu sudah dianggap berisiko terhadap fiskal negara. Situasi disebut semakin berat setelah krisis energi global mempersempit ruang fiskal pemerintah.
“Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis,” tulis media tersebut.
Artikel itu menyebut, pemerintah menghadapi tiga pilihan sulit, yakni memangkas proyek unggulan, mengurangi subsidi energi, atau melampaui batas defisit anggaran yang selama ini ditetapkan sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, masing-masing pilihan dinilai memiliki konsekuensi politik. Mengurangi proyek unggulan disebut bisa membuat pemerintah terlihat lemah, sementara kenaikan harga energi dikhawatirkan memicu keresahan publik.
Karena itu, The Economist menilai ada kemungkinan pemerintah memilih memperlebar defisit anggaran melebihi batas yang ditetapkan undang-undang.