Rupiah Anjlok, Purbaya Guyur Pasar Obligasi agar Asing Tak Kabur

- Pemerintah meningkatkan intervensi di pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah dan mencegah investor asing melepas kepemilikan akibat kekhawatiran penurunan harga obligasi.
- Purbaya menegaskan pelemahan rupiah hanya dipicu sentimen jangka pendek, sementara fondasi ekonomi nasional dinilai masih kuat dan pertumbuhan tetap terjaga.
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level Rp17.675 per dolar, turun 79 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan meningkatkan intervensi di pasar obligasi guna membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Purbaya mengatakan pemerintah sebenarnya sudah masuk ke pasar obligasi sejak pekan lalu. Namun, intervensi yang dilakukan saat itu masih dalam jumlah terbatas. Mulai hari ini, pemerintah akan melakukan intervensi yang lebih besar agar pergerakan pasar obligasi tetap terkendali.
Langkah tersebut juga ditujukan untuk menjaga investor asing agar tidak melepas kepemilikan obligasi akibat kekhawatiran terhadap potensi kerugian dari penurunan harga obligasi. Menurutnya, upaya tersebut diharapkan dapat membantu menopang pergerakan rupiah.
"Hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali, sehingga asing yang pegang obligasi enggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," kata dia di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026).
1. Fondasi ekonomi disebut masih kuat

Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek. Karena itu, pemerintah akan tetap fokus menjaga fundamental ekonomi agar pertumbuhan ekonomi nasional tidak terganggu.
Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menyebut kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang baik sehingga situasi yang terjadi dinilai masih bisa diperbaiki.
"Fondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi saya akan fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," paparnya.
2. Purbaya pastikan kondisi berbeda dengan krisis 1998

Purbaya juga menegaskan kondisi saat ini berbeda dengan krisis ekonomi 1997-1998. Menurut dia, pada masa itu Indonesia sudah mengalami resesi sebelum terjadi instabilitas sosial dan politik.
Sementara saat ini, kata dia, perekonomian Indonesia masih tumbuh sehingga pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan perbaikan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dia pun meminta masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah yang terjadi saat ini.
"Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya. Jadi teman-teman enggak usah khawatir," kata dia.
3. Rupiah tembus Rp17.675 per dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada dalam tekanan. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (18/5/2026), kurs rupiah sudah menyentuh level Rp17.675,5 per dolar AS per pukul 11.36 WIB.
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 79 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan itu menandakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.

















