BPS melaporkan bahwa (1) sektor Listrik, Gas & Air mencatat pertumbuhan nilai tambah riil sebesar −0,99 persen YoY pada Q1-2026, dan (2) manufaktur tumbuh +5,04 persen YoY pada periode yang sama. Kedua angka tersebut berasal dari publikasi resmi BPS yang sama. Secara logis, keduanya tidak mungkin benar: jika pasokan listrik mengalami kontraksi, sektor manufaktur — pengguna listrik terbesar dalam perekonomian — tidak mungkin tumbuh sebesar 5 persen. (3) Sektor lain yang mengonsumsi listrik dalam jumlah besar untuk aktivitasnya tumbuh secara substansial — Hotel dan Restoran tumbuh sebesar 13,14 persen YoY dan TIK tumbuh sebesar 7,14 persen YoY — memperparah inkonsistensi pasokan.
LPEM UI Pertanyakan Pertumbuhan PDB 5,61%, Harusnya Tak Segitu

- LPEM UI mempertanyakan angka pertumbuhan PDB 5,61 persen pada Kuartal I 2026 karena menemukan inkonsistensi dalam data BPS, terutama antara sektor listrik yang minus dan manufaktur yang tumbuh tinggi.
- Laporan LPEM UI menilai tiga pilar ekonomi pemerintah—MBG, KMP, dan Danantara—hanya menyumbang sekitar 0,68 poin persentase terhadap PDB, dengan faktor musiman menjadi pendorong utama lonjakan angka resmi.
- Berdasarkan analisis internal BPS sendiri, LPEM UI memperkirakan pertumbuhan riil lebih realistis di kisaran 4,6–4,9 persen dan menilai proyeksi manufaktur seharusnya sekitar 1,5 persen saja.
Jakarta, IDN Times - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) mempertanyakan angka pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia di Kuartal I 2026 (year on year) yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik mencapai 5,61 persen, atau tertinggi sejak 2012. Ada banyak anomali. Angka itu kemungkinan dilebih-lebihkan.
“Tinjauan kami menunjukkan angka 5,61 persen (year on year) dipertanyakan sebagai ukuran kesehatan ekonomi. Yang mengejutkan, data BPS sendiri mengungkapkan inkonsistensi internal,” demikian Laporan Khusus Mei 2026 yang ditulis Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky yang dikutip IDN Times, Rabu 13 Mei 2026.
Di antara ketidakkonsistenan itu adalah sektor Listrik, Gas dan Air yang mencatat pertumbuhan negatif (-0,99 persen), sementara Manufaktur dilaporkan tumbuh 5,04 persen. “Jika pasokan listrik mengalami kontraksi, pertumbuhan manufaktur tersebut sulit dibenarkan secara fisik,” tulis laporan itu.
Berdasarkan inkonsistensi data BPS itu sendiri, LPEM UI menghitung perkiraan PDB Kuartal i 2026 yang realistis sebesar 4,6 - 4,9 persen. “Bahkan jika dikombinasikan dengan pembalikan fiskal pada Kuartal II hingga Kuartal IV, risiko El Nino, dan transmisi perang Iran, kami memproyeksikan pertumbuhan sepanjang tahun 2023 sebesar 4,0 - 4,5 persen sebagai hasil yang realistis dan kredibel,” penjelasan LPEM UI.
1. Menguji data pemerintah berdasarkan tiga pilar

Pemerintah mengidentifikasi tiga "pusat gravitasi" terkait angka petumbuhan ekonomi tersebut, yakni program Makan Gratis Bergizi (MBG), Koperasi Merah Putih (KMP), dan Danantara. LPEM UI lalu menguji apakah identifikasi tersebut didukung oleh data, termasuk melalui pemeriksaan konsistensi internal dalam angka yang diterbitkan BPS sendiri.
“Kesimpulan awal: angka 5,61 persen tersebut sebagian besar dijelaskan oleh faktor sementara, dan inkonsistensi dalam data sisi produksi BPS sendiri menunjukkan bahwa angka ini kemungkinan besar dilebih-lebihkan,” demikian laporan tersebut.
Di antara tiga pilar pemerintah, menurut laporan, Danantara tidak memberikan kontribusi PDB yang terukur pada kuartal pertama tahun 2026. Ini karena mekanisme penyebaran dana kekayaan negara biasanya membutuhkan waktu 6–18 bulan dari mandat hingga dampak ekonomi riil.
Sementara Koperasi Merah Putih (KMP) baru berada pada tahap awal pembangunan (-7 persen penyelesaian pada akhir kuartal I), memberikan kontribusi sekitar 0,04 poin persentase; sebagian besar pembangunan berlangsung dengan sungguh-sungguh mulai April–Mei 2026.
MBG dinilai sebagai pilar pemerintah yang paling signifikan secara ekonomi dari ketiganya. Dengan anggaran 2026 sebesar Rp260 triliun (1,14 persen dari PDB) — dibandingkan dengan Rp71 triliun pada tahun 2025 — dan pengeluaran kuartal I diperkirakan sekitar Rp50 triliun (fase peningkatan; tingkat pengeluaran penuh Rp65 triliun/kuartal),efek pengganda MBG memerlukan dekomposisi yang cermat:

Efek perpindahan, dalam laporan itu dijelaskan, adalah faktor kunci yang diabaikan sebagian besar analisis: penerima manfaat MBG tidak kekurangan makanan sebelum program ini ada. MBG sebagian menggantikan pengeluaran makanan rumah tangga yang sudah ada sebelumnya — hanya bagian yang benar-benar tambahan yang merupakan permintaan baru bersih.
Selain itu, penyedia MBG menyingkirkan pekerja/penjual kantin lokal dari persaingan. Ketiga pilar tersebut secara gabungan memberikan kontribusi sekitar 0,68 poin persentase (pp) bersih — riil dan material, tetapi faktor musiman (Idul Fitri, THR, efek dasar) dan sisa persediaan SUT, yang bersama-sama memberikan kontribusi sekitar 1,5–2,0 pp, tetap menjadi pendorong utama dari angka utama 5,61 persen.
2. Kajian LPEM UI tidak menggunakan data eksternal di luar data BPS

Dijelaskan juga, terkait inkonsistensi data internal BPS terkait sektor listrik dan manufaktur, laporan LPEM UI tidak bergantung pada sumber data eksternal apa pun untuk menantang angka manufaktur BPS.
“Sebaliknya, kami bergantung pada data yang diterbitkan oleh BPS sendiri, pada sisi produksi PDB yang sama, untuk menunjukkan bahwa pertumbuhan manufaktur sebesar +5,04 persen tidak konsisten dengan data sektoral lainnya dalam rilis yang sama,” demikian laporan tersebut.

Mengapa inkonsistensi ini signifikan?
Dalam penjelasannya, LPEM UI melaporkan, manufaktur adalah pengguna listrik terbesar dalam perekonomian Indonesia, menyerap sekitar 40–42 persen dari total konsumsi listrik nasional. Hubungan antara output manufaktur dan konsumsi listrik secara teknis fundamental: mesin produksi, tungku peleburan, jalur perakitan, dan sistem pendingin semuanya membutuhkan listrik. Dalam jangka pendek, koefisien input-output energi ini relatif tetap — premis yang mendasari metodologi estimasi triwulanan BPS sendiri.
Dari perspektif sisi produksi BPS, sektor Listrik, Gas & Air mencakup nilai tambah yang dihasilkan oleh produsen listrik — termasuk PLN dan produsen listrik independen (IPP). Pertumbuhan nilai tambah negatif (−0,99 persen) menunjukkan bahwa produksi listrik agregat menurun.
“Penurunan pasokan listrik di samping pertumbuhan pesat di sektor manufaktur yang bergantung pada listrik merupakan kontradiksi yang membutuhkan penjelasan,” tulis laporan itu.
3. Koreksi LPEM UI berdasarkan inkonsistensi internal

Dengan menggunakan inkonsistensi internal BPS sebagai dasar, LPEM UI memperkirakan kisaran tingkat pertumbuhan manufaktur yang lebih konsisten dengan kontraksi sektor listrik. Manufaktur menyumbang 19,07 persen dari PDB dengan output Q1-2025 sebesar Rp667,7 triliun (harga konstan).
“Perkiraan utama kami — pertumbuhan manufaktur ~1,5 persen, menghasilkan PDB Q1-2026sekitar ~4,89 persen — dipilih sebagai titik tengah konservatif. Ini bukan angka tunggal yang pasti, tetapi titik tengah dari rentang yang dapat dipertahankan secara analitis berdasarkan data yang diterbitkan BPS sendiri,” tulis laporan.
LPEM UI juga memberikan peringatan metodologis yang menyangkut efek komposisi dalam data agregat. Dijelaskan, pertumbuhan nilai tambah sektor Listrik, Gas & Air (−0,99 persen) adalah rata-rata tertimbang di semua kategori pelanggan: rumah tangga (~43 persen dari total penjualan kWh), bisnis/komersial (~19 persen), industri (~31 persen), dan sosial/pemerintah (~7 persen).
“Hal ini menciptakan apa yang kami sebut efek komposisi: pertumbuhan listrik agregat tidak secara langsung mencerminkan pertumbuhan konsumsi listrik industri,” jelasnya.
Secara konkret: jika rumah tangga menggunakan lebih banyak listrik sementara industri mengalami kontraksi, agregat dapat mendekati nol bahkan ketika konsumsi listrik industri sangat negatif — dan sebaliknya. Hal ini membatasi ketelitian koreksi apa pun berdasarkan angka agregat. Idealnya, data listrik industri spesifik sektor (kategori tarif I3/I4) akan digunakan untuk mengisolasi sinyal manufaktur secara tepat.
“Pola musiman Q1-2026 justru memperkuat, bukan melemahkan, argumen kami. Q1-2026 mencakup puncak Ramadan dan Idul Fitri — periode di mana konsumsi listrik rumah tangga secara historis meningkat (memasak, penerangan malam yang diperpanjang, pendingin udara siang hari),” demikian laporan itu.
Jika rumah tangga mendorong konsumsi agregat ke atas sementara agregat tetap negatif (−0,99 persen), dijelaskan, kontraksi di segmen industri pasti lebih dalam daripada yang ditunjukkan oleh angka agregat. “Efek komposisi dalam konteks ini kemungkinan membuat koreksi kami konservatif, bukan berlebihan."


















