Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara Selisih Harga BBM Nonsubsidi
Kantor pusat PT Pertamina (Persero). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM meski harga minyak dunia melonjak, sehingga Pertamina harus menanggung sementara selisih biaya akibat kenaikan tersebut.
  • Menkeu Purbaya menyebut keuangan Pertamina masih kuat karena pembayaran kompensasi dari pemerintah berjalan lancar setiap bulan sebesar 70 persen.
  • Kenaikan harga minyak diperkirakan membuat subsidi energi membengkak hingga Rp100 triliun dan defisit APBN 2026 melebar menjadi sekitar 2,9 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, PT Pertamina (Persero) akan menanggung sementara selisih harga jual dengan harga keekonomian BBM nonsubsidi untuk sementara. Ini menyusul keputusan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM subsidi dan nonsubsidi di tengah melonjaknya harga minyak dunia.

“Sementara sepertinya Pertamina, sementara ya,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Dalam APBN 2026, pemerintah mengasumsikan harga minyak mentah di level 70 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Namun, akibat konflik Timur Tengah, harga minyak mentah dunia telah menyentuh 104,015 dolar AS per barel, dan brent 105,98 dolar AS per barel, menurut data Trading Economics.

1. Pertamina dapat bayaran kompensasi setiap bulan

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Trio Hamdani)

Purbaya memastikan Pertamina memiliki kemampuan dana untuk menanggung sementara beban dari lonjakan harga minyak dunia.

“Dia mampu karena sekarang pembayaran dari pemerintah kan lancar. Kompensasi kan sekarang kita bayar setiap bulan 70 persen terus-terusan. Jadi keuangan Pertamina juga amat baik. Jadi untuk absorb itu untuk jangka waktu pendek enggak masalah,” tutur Purbaya.

2. Anggaran subsidi BBM bakal membengkak Rp100 triliun

Ilustrasi anggaran (IDN Times/ Aditya Pratama)

Dengan beban tersebut, Purbaya memperkirakan anggaran subsidi BBM akan membengkak Rp90 triliun sampai Rp100 triliun. Sebelumnya, pemerintah mematok anggaran subsidi dan kompensasi energi di APBN 2026 sebesar Rp381,3 triliun.

“Rp90-100 (triliun), itu subsidi. Kompensasi lain lagi kan. Jadi nanti deh saya hitung angka detail-nya, saya lupa sekarang,” ucap Purbaya.

3. Defisit APBN melebar

Ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Pembengkakan anggaran subsidi energi akan berpengaruh pada defisit APBN yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 2,68 persen dalam APBN 2026. Oleh sebab itu, Purbaya juga memperkirakan defisit APBN bakal menyentuh 2,9 persen.

Meski begitu, menurut dia, angka tersebut tidak melebihi realisasi defisit APBN 2025 yang sekitar 2,92 persen. Asumsi itu mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia yang diperkirakan bergerak di angka 100 dolar AS per barel sepanjang 2026.

“Kita mindset dengan asumsi bahwa harga minyak dunia tinggi terus dan rata-rata 100 sepanjang tahun. Kita lakukan kebijakan sehingga defisitnya terkendali di 2,9 persen,” kata Purbaya.

Editorial Team