Harga BBM Tak Naik, Anggaran Subsidi Diperkirakan Bengkak Rp100 T

- Pemerintah tidak menaikkan harga BBM meski harga minyak dunia melonjak, membuat anggaran subsidi diperkirakan membengkak hingga Rp100 triliun tahun ini.
- Pertamina menanggung sementara selisih harga minyak dunia karena kondisi keuangannya dinilai kuat dan pembayaran kompensasi dari pemerintah berjalan lancar.
- Menkeu Purbaya memastikan APBN tetap aman dengan dukungan SAL Rp420 triliun, meski defisit 2026 diperkirakan melebar menjadi 2,9 persen akibat kenaikan harga minyak.
Jakarta, IDN Times - Anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan membengkak di kisaran Rp90 triliun sampai Rp100 triliun tahun ini.
Pembengkakan itu merupakan hitungan sementara Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengingat pemerintah tidak menaikkan harga BBM di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
“Rp90-100 (triliun), itu subsidi. Kompensasi lain lagi kan. Jadi nanti deh saya hitung angka detail-nya, saya lupa sekarang,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Rabu (1/4/2026).
Sebelumnya, pemerintah mematok anggaran subsidi dan kompensasi energi di APBN 2026 sebesar Rp381,3 triliun.
1. Pertamina tanggung sementara lonjakan harga BBM

Pemerintah sendiri telah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar 70 dolar Amerika Serikat (AS) per barel dalam APBN 2026.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah dunia telah menyentuh 104,015 dolar AS per barel, dan brent 105,98 dolar AS per barel.
Purbaya mengatakan, PT Pertamina (Persero) akan menanggung sementara selisih lonjakan harga minyak dunia itu.
“Sementara sepertinya Pertamina, sementara ya. Tapi dia mampu karena sekarang pembayaran dari pemerintah kan lancar. Kompensasi kan sekarang kita bayar setiap bulan 70 persen terus-terusan. Jadi keuangan Pertamina juga amat baik. Jadi untuk absorb itu untuk jangka waktu pendek enggak masalah,” ucap Purbaya.
2. Purbaya pastikan APBN cukup

Purbaya memastikan, pemerintah memiliki dana yang cukup dalam menghadapi situasi saat ini. Di sisi lain, ada Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang kini nilainya naik ke Rp420 triliun.
“Ada penghematan sedikit-sedikit di sana sini. Kita melakukan penghematan tahap 1, tahap 2, tahap 3 di belanja kementerian/lembaga yang enggak terlalu jelas. Dan kalau kepepet, saya punya SAL sekarang naik Rp420 triliun,” ucap dia.
3. Target defisit APBN diperlebar ke 2,9 persen

Purbaya juga memperkirakan defisit APBN bakal menyentuh 2,9 persen. Menurutnya, angka tersebut tidak melebihi realisasi defisit APBN 2025 yang sekitar 2,92 persen. Namun, angka itu naik 0,22 persen dari asumsi defisit APBN 2026 sebeumnya yakni 2,68 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Asumsi itu mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia yang diperkirakan bergerak di angka 100 dolar AS per barel sepanjang 2026.
“Kita mindset dengan asumsi bahwa harga minyak dunia tinggi terus dan rata-rata 100 sepanjang tahun. Kita lakukan kebijakan sehingga defisitnya terkendali di 2,9 persen,” kata Purbaya.



















