Comscore Tracker

Benarkah Ekonomi Tiongkok Sudah Menyalip Amerika Serikat?

Presiden Xi Jinping pede negaranya bisa jadi nomor 1

Jakarta, IDN Times – Pengaruh Tiongkok di panggung dunia semakin terlihat sekarang ini. Bahkan di tengah pandemik COVID-19 sekalipun, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu terus menunjukkan taringnya.

Pada saat negara-negara di dunia terpuruk akibat COVID-19 dan mengalami resesi, ekonomi Tiongkok justru tumbuh karena negara itu mampu mengendalikan wabah. Hal ini berarti produk domestik bruto (PDB) negara itu bisa melampaui Amerika Serikat (AS) pada akhir dekade ini, menurut ekonom, sebagaimana dilaporkan CNBC.

“Tiongkok keluar dari guncangan COVID-19 lebih awal dari seluruh dunia dan pihak berwenang sudah merencanakan untuk jangka panjang,” tulis Françoise Huang, ekonom senior untuk Asia-Pasifik di Euler Hermes, dalam sebuah laporan pekan lalu berjudul “Dunia bergerak ke Timur, dengan cepat”.

Selain dalam hal itu, Tiongkok juga semakin unggul dalam beberapa hal lain termasuk dalam hal menarik investasi asing.

Baca Juga: Membuka WEF di Davos, Xi Jinping Serukan Kerja Sama Global

1. Tiongkok adalah penerima investasi perusahaan asing terbesar di dunia

Benarkah Ekonomi Tiongkok Sudah Menyalip Amerika Serikat?Ilustrasi Investasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Tiongkok adalah ekonomi terbesar kedua di dunia, di belakang AS. Namun, Tiongkok baru saja melampaui Amerika Serikat dalam banyak hal, salah satunya dalam hal menarik investasi asing langsung.

Menurut CNN, investasi langsung di AS oleh perusahaan asing anjlok 49 persen menjadi 134 miliar dolar tahun lalu. Sebaliknya, investasi asing langsung di Tiongkok tumbuh sebesar 4 persen menjadi 163 miliar dolar pada 2020.

“Tahun 2020 menandai tahun pertama dalam sejarah di mana investasi asing langsung di Tiongkok melampaui AS,” menurut laporan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan yang dirilis pada Minggu (24/1/2021).

Tiongkok sekarang menjadi penerima investasi perusahaan asing terbesar di dunia.

2. Menandatangani perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa

Benarkah Ekonomi Tiongkok Sudah Menyalip Amerika Serikat?Para pemimpin UE27 dalam konferensi di Brussels, Belgia. (Sky)

Salah satu pencapaian besar yang baru diperoleh Tiongkok adalah menandatangani perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa (UE). Perjanjian yang ditandatangani menjelang akhir tahun 2020 itu bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan memberi perusahaan Eropa akses yang lebih besar ke 1,4 miliar konsumen negara tersebut.

Kesepakatan itu juga akan membantu memperbaiki hubungan ekonomi kedua pihak, yang menurut Eropa tidak seimbang.

Menurut Channel News Asia, pembentukan perjanjian tersebut telah berlangsung selama hampir tujuh tahun dan kemungkinan akan memakan waktu setidaknya satu tahun lagi untuk mulai berlaku. Meski demikian, Uni Eropa telah menggambarkan perjanjian tersebut sebagai langkah untuk menempa aturan multilateral.

Baca Juga: Investasi Asing Ramai-ramai Tinggalkan AS, Lari ke Tiongkok 

3. Xi Jinping tegaskan optimisme akan jadi yang terdepan

Benarkah Ekonomi Tiongkok Sudah Menyalip Amerika Serikat?The Davos Agenda 2021 World Economic Forum - Screenshot WEF LIVE

Setiap kemajuan yang diperoleh Tiongkok itu juga telah ditegaskan oleh Presiden Xi Jinping. Saat berbicara di The Davos Agenda 2021 Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Senin (25/1/2021), Xi mengatakan dia bisa melihat negaranya mengambil posisi terdepan di tahun mendatang dan seterusnya.

Dalam kesempatan tersebut Xi memuji negaranya yang mampu mengirimkan bantuan ke negara lain dan mendorong dunia untuk bekerja sama di saat menghadapi pandemiknya sendiri. Dia juga memuji kemampuan Tiongkok untuk mendorong ekonomi global dengan menyuntikkan lebih banyak momentum ke dalam pertumbuhan.

“Tiongkok akan memanfaatkan keunggulan pasar besarnya dan potensi permintaan domestik untuk memberikan lebih banyak peluang bagi kerja sama antar negara dan pemulihan ekonomi global,” kata Xi.

4. Tiongkok diingatkan akan tantangan geopolitik

Benarkah Ekonomi Tiongkok Sudah Menyalip Amerika Serikat?Seorang pria membawa bendera China dari sebuah rumah di seberang Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Chengdu, provinsi Sichuan, China, Minggu (26/7/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter)

Menanggapi perkataan Xi, William Reinsch, seorang ahli perdagangan di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mengatakan Xi jelas menunjukkan kepercayaan diri. Namun ia juga memperingatkan bahwa sejumlah tantangan geopolitik, termasuk kerusuhan politik di Hong Kong dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Xinjiang, telah memperburuk ketegangan dengan Barat.

Hal itu juga mungkin akan menghalangi upaya untuk mendorong kerja sama multilateral, kata pria yang telah menjabat selama 15 tahun sebagai presiden Dewan Perdagangan Luar Negeri Nasional tersebut.

“[Xi] menyia-nyiakan pengaruh global China melalui tindakan yang semakin provokatif di Xinjiang, di Hong Kong, di Laut China Selatan, dan sehubungan dengan Taiwan,” kata Reinsch kepada CNN Business.

“Tindakan ini tidak dapat diterima oleh negara demokrasi, dan saya pikir kita akan terus melihat mereka menarik diri dari China meskipun memiliki daya tarik sebagai pasar,” tambahnya.

Meski demikian, ia juga mengakui kekuatan ekonomi Tiongkok saat ini sulit untuk diabaikan.

Baca Juga: Ahli: AS-Tiongkok akan Tetap Ribut meski Biden Jadi Presiden

5. Peluang untuk tumbuh dihadapkan dengan banyak tantangan

Benarkah Ekonomi Tiongkok Sudah Menyalip Amerika Serikat?Petugas medis dengan pakaian pelindung menerima pasien di Pusat Konferensi dan Pameran Internasional Wuhan, yang diubah menjadi rumah sakit sementara bagi pasien dengan gejala ringan akibat virus corona, di Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok (ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS)

Julian Evans-Pritchard, ekonom senior Tiongkok di Capital Economics, mengatakan negara itu memiliki peluang tumbuh namun bukan berarti tanpa hambatan.

Sebelumnya pada bulan Desember, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa pemulihan Tiongkok sangat bergantung pada dukungan pemerintah. Negara itu juga menghadapi banyak kebangkrutan dan kredit macet di perusahaan yang dikelola negara, sehingga menekan pasar utangnya.

“Respons kebijakan terhadap pandemik COVID-19, meski efektif dalam jangka pendek, mendorong lebih banyak sumber daya ke perusahaan negara yang tidak efisien dan akan menambah beban utang Tiongkok,” tulis Julian di laporan penelitiannya minggu lalu.

Topic:

  • Rehia Sebayang
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya