Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ribuan Pekerja Film Tolak Penggabungan Warner Bros. dan Paramount
Ilustrasi logo Warner Bros (unsplash.com/Dmitry Kropachev)
  • Lebih dari 1.000 pekerja film menolak penggabungan Warner Bros. Discovery dan Paramount Skydance senilai lebih dari 110 miliar dolar AS karena dikhawatirkan memicu monopoli dan mengancam keberagaman industri hiburan.
  • Para sineas menyoroti risiko berkurangnya ruang produksi film independen, meningkatnya harga langganan, serta dominasi segelintir eksekutif yang dapat membatasi ide orisinal di layanan streaming gabungan.
  • Pemerintah California melalui Jaksa Agung Rob Bonta mulai menyelidiki transaksi besar ini untuk memastikan persaingan usaha tetap sehat, sementara pihak Paramount menjanjikan peningkatan kapasitas produksi film tahunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lebih dari 1.000 aktor, sutradara, produser, dan pekerja kreatif secara resmi menolak rencana penggabungan antara Warner Bros. Discovery dan Paramount Skydance, pada Senin (13/4/2026). Kesepakatan bernilai sekitar 110 miliar hingga 111 miliar dolar AS (Rp1,88 kuadriliun-Rp1,90 kuadriliun) ini menjadi perhatian dunia karena dianggap dapat mengubah peta persaingan industri media di AS dan berisiko memicu monopoli di sektor hiburan global.

Para pekerja film memperingatkan bahwa penggabungan dua raksasa media ini berisiko mengurangi lapangan kerja bagi puluhan ribu orang, meningkatkan biaya langganan bagi penonton, serta menyusutkan keragaman tontonan yang bisa dinikmati masyarakat. Protes ini menunjukkan kekhawatiran para pekerja Hollywood yang merasa ekosistem industri terancam oleh konsolidasi perusahaan yang dinilai lebih mengutamakan efisiensi finansial dibandingkan nilai seni.

1. Dukungan penuh dari bintang Hollywood

Ilustrasi Hollywood (unsplash.com/Nathan DeFiesta)

Surat terbuka yang diinisiasi melalui platform BlocktheMerger ini mendapat dukungan kuat dari banyak bintang besar Hollywood. Nama-nama seperti Joaquin Phoenix, Jane Fonda, Mark Ruffalo, hingga Emma Thompson ikut bersuara karena mengkhawatirkan dampak penggabungan ini terhadap independensi pekerja seni. Sutradara kenamaan seperti J.J. Abrams dan David Fincher juga menilai bahwa integrasi aset raksasa seperti HBO, CNN, dan Paramount Pictures akan membatasi ruang bagi karya-karya baru yang unik.

"Kami sangat khawatir penggabungan ini hanya mementingkan sekelompok kecil orang berkuasa dan mengabaikan kepentingan masyarakat luas. Hal ini bisa merusak integritas, kebebasan, dan keberagaman di industri kami," tulis para profesional film tersebut dalam dokumen protes mereka, dilansir National Today.

Dukungan terhadap gerakan ini terus bertambah hingga menembus angka 2.000 orang dalam waktu sehari. Aktor seperti Pedro Pascal dan Florence Pugh juga ikut mengingatkan pemerintah bahwa penyusutan jumlah studio besar dapat berdampak negatif pada ekosistem industri film.

Di sisi lain, rencana ini muncul setelah Paramount Skydance sepakat mengakuisisi Warner Bros. Discovery senilai 81 miliar dolar AS (Rp1,38 kuadriliun) serta mengambil alih utang sebesar 29 miliar dolar AS (Rp497,02 triliun). Damon Lindelof, seorang pembuat film, menyebut bahwa konsolidasi perusahaan dalam skala ini berpotensi menurunkan tingkat produktivitas di lingkungan studio akibat pemangkasan aktivitas produksi.

2. Kekhawatiran para sineas terhadap hilangnya ruang untuk memproduksi film

ilustrasi logo Paramount (unsplash.com/Romain Malaunay)

Kekhawatiran utama para sineas adalah hilangnya ruang untuk produksi film dengan anggaran menengah dan semakin sulitnya jalur distribusi untuk film independen. Mereka menilai, jika layanan streaming seperti HBO Max dan Paramount+ digabung, keputusan produksi berpotensi terpusat hanya pada segelintir eksekutif yang memegang kendali atas cerita apa yang pantas diproduksi. Kondisi ini dianggap mengancam keberlangsungan ekonomi para pekerja di bisnis kecil dan perusahaan produksi mandiri.

"Dampaknya adalah kesempatan bagi pencipta film berkurang, lapangan kerja menyempit, harga layanan jadi lebih mahal, dan penonton punya lebih sedikit pilihan tontonan," jelas isi surat tersebut.

Para pengamat industri sepakat bahwa penggabungan ini akan menciptakan hambatan baru bagi pembuat film pendatang untuk masuk ke industri. Studio diperkirakan akan bermain aman dengan memprioritaskan film-film waralaba besar yang memiliki jaminan komersial, dibandingkan mengambil risiko pada ide cerita orisinal.

"Persaingan sangat penting untuk ekonomi dan demokrasi yang sehat. Begitu juga dengan aturan hukum yang tegas untuk memastikan industri film tetap punya masa depan yang baik," ungkap para sineas dalam pernyataan bersama mereka, dilansir Times of India.

3. Pemerintah mulai turun tangan menyelidiki penggabungan Warner Bros. dan Paramount Skydance

ilustrasi logo Warner Bros. Discovery (unsplash.com/Dmitry Kropachev)

Merespons gejolak ini, Pemerintah Negara Bagian California mulai menyelidiki transaksi bernilai fantastis tersebut. Jaksa Agung Rob Bonta memperingatkan adanya potensi kebijakan yang dapat menekan upah pekerja dan merugikan konsumen melalui kenaikan harga langganan.

"Rencana penggabungan Warner Bros. ini harus diperiksa secara mendalam. California sedang memantau dengan saksama untuk memastikan aturan persaingan usaha tetap berjalan tegak," tegas Jaksa Agung Rob Bonta.

Menanggapi penolakan tersebut, pimpinan Paramount Skydance, David Ellison, berusaha meyakinkan publik bahwa penggabungan ini justru akan memperkuat ekosistem hiburan. Ia menjanjikan entitas gabungan ini akan memiliki kapasitas finansial yang lebih sehat untuk membiayai lebih banyak proyek, dengan target memproduksi setidaknya 30 film untuk bioskop setiap tahunnya.

"Kesepakatan ini menyatukan kekuatan kedua perusahaan agar bisa menjalankan lebih banyak proyek, mendukung ide-ide berani, dan membantu talenta film di tingkat dunia," kata perwakilan Paramount merespons polemik tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team