Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Pilih Netral dalam Perang Netflix-Paramount Rebut Warner Bros

Ilustrasi Donald Trump (commons.m.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Ilustrasi Donald Trump (commons.m.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, resmi menyatakan bahwa pemerintah federal tidak akan ikut campur dalam persaingan akuisisi aset raksasa media Warner Bros. Discovery (WBD) yang melibatkan Netflix dan Paramount Skydance.

Pernyataan yang disampaikan pada Rabu (4/2/2026) tersebut menandai perubahan arah kebijakan Presiden Trump. Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, ia sempat memberikan sinyal akan terlibat langsung dalam proses peninjauan dan persetujuan kesepakatan bernilai fantastis ini.

1. Trump ambil sikap netral terkait merger Netflix-WBD

Ilustrasi Netflix dan Warner Bros
Ilustrasi Netflix dan Warner Bros (Unsplash.com/@ventiviews | Unsplash.com/@chaseyi_)

Presiden Donald Trump menunjukkan perubahan sikap yang signifikan dengan mengambil posisi netral terkait rencana merger antara Netflix dan WBD. Keputusan ini menandai pergeseran tajam dari pernyataan agresifnya pada Desember 2025, saat ia secara terbuka meragukan dampak konsolidasi pasar tersebut.

Sebelumnya, Presiden Trump sempat menyatakan niatnya untuk terlibat dalam proses peninjauan merger tersebut karena khawatir dominasi pangsa pasar kedua entitas itu akan memicu masalah kompetisi. Namun, dalam wawancara terbaru, Trump menunjukkan nada yang lebih pragmatis.

"Ada teori yang menyebut satu perusahaan terlalu besar dan tidak boleh melakukan merger, sementara pihak lain berpendapat berbeda. Mereka saling bersaing dengan sangat keras, dan pada akhirnya akan ada pemenangnya," ujar Trump, dilansir The Wrap.

Sikap netral ini tetap diambil meskipun Trump dikenal memiliki hubungan dekat dengan pendiri Oracle, Larry Ellison. Ellison merupakan penyokong utama tawaran Paramount Skydance, yang sebelumnya memicu spekulasi bahwa Gedung Putih akan lebih berpihak pada kubu Paramount.

2. Persaingan visi finansial Netflix dan Paramount Skydance

ilustrasi logo Warner Bros. Discovery (unsplash.com/Dmitry Kropachev)
ilustrasi logo Warner Bros. Discovery (unsplash.com/Dmitry Kropachev)

Masa depan WBD saat ini menjadi pusat persaingan dua visi finansial yang sangat kontras antara Netflix dan Paramount Skydance. Netflix telah mengajukan tawaran senilai 82,7 miliar dolar AS (Rp1,3 kuadriliun) yang telah mendapatkan persetujuan dari dewan direksi WBD, di mana rencana tersebut mencakup akuisisi aset premium seperti studio film Warner Bros, HBO, dan layanan streaming HBO Max, sementara jaringan kabel linier akan dipisahkan menjadi entitas baru bernama Discovery Global.

Dalam kesaksiannya, Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, berargumen bahwa merger ini akan menciptakan efisiensi ekonomi yang memberikan keuntungan bagi publik.

"Bersama WBD, kami akan menciptakan lebih banyak pertumbuhan ekonomi dan lebih banyak nilai bagi konsumen. Kami akan memberikan lebih banyak konten kepada konsumen dengan biaya lebih rendah," ujar Sarandos, dilansir Cord Cutters News.

Di sisi lain, Paramount Skydance di bawah pimpinan CEO David Ellison mengajukan tawaran tunai penuh yang jauh lebih besar senilai 30 dolar AS (Rp503,5 ribu) per saham, sehingga nilai valuasi total perusahaan mencapai 108,4 miliar dolar AS (Rp1,8 kuadriliun). Tawaran masif ini didukung oleh paket pembiayaan besar, termasuk jaminan pribadi yang tidak dapat ditarik kembali senilai 40,4 miliar dolar AS (Rp678 triliun) dari Larry Ellison guna menutupi komponen ekuitas.

David Ellison menegaskan keseriusannya untuk mengakuisisi seluruh aset WBD secara utuh, termasuk unit CNN dan saluran olahraga yang ditinggalkan dalam rencana Netflix.

Namun, dewan direksi WBD secara tegas menolak tawaran Paramount Skydance tersebut dengan alasan adanya risiko finansial yang ekstrem, serta menyebut proposal itu tidak memadai dan penuh ketidakpastian. Dewan menyoroti bahwa struktur kesepakatan Paramount akan membebani perusahaan gabungan dengan utang sekitar 87 miliar dolar AS (Rp1,4 kuadriliun) yang menciptakan rasio leverage hingga 7x EBITDA, sebuah kondisi yang dianggap sangat berbahaya bagi keberlangsungan jangka panjang perusahaan.

Selain itu, daya tarik tawaran Paramount semakin tergerus oleh adanya kewajiban WBD untuk membayar biaya pembatalan kontrak sebesar 2,8 miliar dolar AS (Rp46,9 triliun), jika mereka memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan yang telah berjalan dengan Netflix.

3. Hambatan regulasi bagi Netflix

Black Flat Screen Tv Turned on Showing Man in Black Shirt
Ilustrasi Netflix. (Pexels / Karola G)

Meskipun Presiden Trump telah menyatakan netralitasnya, hambatan regulasi tetap menjadi tantangan terbesar bagi kedua belah pihak, terutama bagi Netflix. Ketua Subkomite Antitrust Senat, Mike Lee, memperingatkan bahwa akuisisi Warner Bros oleh Netflix tampaknya akan menimbulkan masalah antitrust yang serius, karena langkah tersebut akan menggabungkan dua layanan streaming terbesar di dunia, yakni Netflix dengan 325 juta pelanggan dan HBO Max dengan 128 juta pelanggan, di bawah satu naungan perusahaan.

Senator Lee berargumen bahwa konsolidasi tersebut akan memberikan entitas gabungan insentif dan kemampuan untuk menempatkan pesaing pada posisi yang kurang menguntungkan, serta memberikan potensi kekuatan monopoli untuk menaikkan harga berlangganan secara sepihak.

Dengan mundurnya Presiden Trump dari keterlibatan langsung, nasib WBD kini sepenuhnya berada di tangan para teknokrat di Departemen Kehakiman (DOJ) dan Komisi Perdagangan Federal (FTC). Proses peninjauan ini diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan, di mana regulator harus menimbang secara mendalam antara efisiensi pasar yang dijanjikan oleh Netflix melawan risiko konsentrasi kekuatan media yang masif.

Sementara itu, Paramount Skydance terus melancarkan kampanye agresif kepada para pemegang saham WBD dengan harapan bahwa tawaran uang tunai yang menggiurkan akan cukup untuk menggoyahkan kesetiaan investor terhadap rekomendasi dewan direksi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Rupiah Dibuka Lesu ke Rp16.886 per Dolar AS

06 Feb 2026, 09:37 WIBBusiness