Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah berada pada titik nadir. Dua hari ini, Selasa, (12/5/2026) dan Rabu, (13/5), kurs rupiah menyentuh level terburuk sepanjang sejarah, yakni Rp17.500-an per dolar AS.
Pelemahan rupiah diperparah dengan rilisnya hasil rebalancing indeks dari dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), di mana sebanyak 6 saham Indonesia terdepak dari Global Standard Index, dan sebanyak 13 saham terdepak dari Global Small Cap Index.
Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai menjadi sinyal bahaya bagi perekonomian Indonesia, tentang bagaimana dampaknya pada kenaikan harga barang-barang, terutama minyak dunia.
Menurut Pendiri/Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies(CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, pelemahan rupiah menjadi tantangan besar, ditambah lagi dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang rentan.
