Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp17.475,5 per Dolar AS

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp17.475,5 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah ditutup menguat tipis ke Rp17.475,5 per dolar AS, naik 53 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Chief Economist Bank Permata mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak khawatir berlebihan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
  • Deputi Gubernur Senior BI menyebut tekanan terhadap rupiah masih dipicu faktor eksternal seperti konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda berhasil menguat pada penutupan perdagangan, Rabu (13/5/2026) pada level Rp17.475,5 per dolar AS.

Berdasarkan Bloomberg, rupiah menguat hingga 53 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan kemarin.

  1. 1. Rincian pergerakan mata uang sore ini

    Mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat, rinciannya:

    Bath Thailand menguat 0,05 persen

    Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen

    Rupee India menguat 0,40 persen

    Pesso Filipina menguat 0,07 persen

    Won Korea menguat 3,95 persen

    Dolar Taiwan menguat 0,09 persen

  2. 2. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau tidak perlu khawatir

    Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengimbau bagi para pelaku usaha atau masyarakat untuk mengelola ekspektasi terhadap kurs rupiah terhadap dolar AS. Josua juga meminta agar mereka tidak perlu pusing memikirkan pergerakan rupiah yang masih terus melorot melawan dolar AS.

    "Bagi para pelaku usaha dan juga masyarakat yang mungkin tidak terekspos atau tidak terpapar berkait dengan risiko nilai tukar, tidak perlu pusing dengan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini," kata Josua.

  3. 3. Tekanan rupiah masih dominan dari eksternal

    Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

    Destry mengatakan, tekanan terhadap rupiah meningkat akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang semakin tinggi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ketidakpastian global.

    “Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena konflik di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry kepada IDN Times, Selasa (12/5/2026).

    Dari sisi domestik, dia menjelaskan permintaan dolar AS meningkat secara musiman. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN), pembayaran dividen, hingga kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More