Ekonom, Josua Pardede, mengatakan, penguatan dolar AS dipicu oleh sejumlah indikator ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar, terutama dari sektor tenaga kerja dan manufaktur.
“Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu dan lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 210 ribu,” ujar Josua dalam riset hariannya, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih ketat. Selain itu, data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS juga naik menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8 dan menandakan sektor manufaktur AS tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Dengan adanya pandangan ekonomi AS masih tangguh sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Fed. Meski demikian, penguatan dollar AS sempat tertahan setelah muncul optimisme terkait potensi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran.
“Pada akhir sesi, indeks dolar AS sedikit naik sebesar 0,17 persen menjadi 99,26,” kata dia.