Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka melemah 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.700 per Dolar AS

- Rupiah dibuka melemah ke Rp17.700 per dolar AS, turun 33 poin atau 0,19 persen dibanding penutupan sebelumnya di pasar spot Jumat, 22 Mei 2026.
- Dolar AS menguat karena data ekonomi seperti klaim pengangguran dan PMI manufaktur menunjukkan kinerja lebih baik dari ekspektasi, menandakan ekonomi Amerika masih solid.
- Dalam negeri, ketidakpastian kebijakan ekspor dan aksi jual investor asing menekan rupiah serta IHSG, meski permintaan terhadap Surat Berharga Negara tetap kuat.
1. Rincian mata uang di Asia yang bergerak variatif
Daftar mata uang di Asia bergerak variatif dengan rincian:
- Bath Thailand melemah 0,12 persen
- Ringgit Malaysia melemah 0,04 persen
- Yuan China menguat 0,02 persen
- Rupee India menguat 0,65 persen
- Pesso Filipina menguat 0,08 persen
- Won Korea melemah 0,24 persen
- Dolar Taiwan menguat 0,14 persen
2. Alasan dolar AS menguat
Ekonom, Josua Pardede, mengatakan, penguatan dolar AS dipicu oleh sejumlah indikator ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar, terutama dari sektor tenaga kerja dan manufaktur.
“Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu dan lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 210 ribu,” ujar Josua dalam riset hariannya, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih ketat. Selain itu, data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS juga naik menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8 dan menandakan sektor manufaktur AS tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Dengan adanya pandangan ekonomi AS masih tangguh sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Fed. Meski demikian, penguatan dollar AS sempat tertahan setelah muncul optimisme terkait potensi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran.
“Pada akhir sesi, Indeks Dollar AS sedikit naik sebesar 0,17 persen menjadi 99,26,” kata dia.
3. Kebijakan dalam negeri terkait tata kelola ekspor mempengaruhi investor
Menurut Josua, dari sisi domestik, rupiah terdepresiasi akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Investor mulai mengantisipasi kebijakan baru terkait tata kelola ekspor yang akan memusatkan transaksi ekspor beberapa komoditas di bawah badan usaha milik negara (BUMN). Selain itu, pelaku pasar juga melakukan peralihan aset menjelang pengumuman MSCI pada Juni mendatang.
Dia mencatat, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 30,82 juta dolar AS yang turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga turun 3,54 persen ke level 6.096. Sementara itu, rupiah melemah 0,28 persen menjadi Rp 17.654 per dolar AS.
Josua memperkirakan, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.725 per dolar AS.
Di sisi lain, permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) tetap kuat meski rupiah melemah. Menurut Josua, kondisi itu kemungkinan dipengaruhi realokasi aset investor dari pasar saham ke pasar obligasi.



















