Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda kembali melemah pada penutupan perdagangan, Selasa (19/5/2026) pada level Rp17.706 per dolar AS.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah hingga 38 poin atau 0,22 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda kembali melemah pada penutupan perdagangan, Selasa (19/5/2026) pada level Rp17.706 per dolar AS.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah hingga 38 poin atau 0,22 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah, rinciannya:
Bath Thailand melemah 0,15 persen
Ringgit Malaysia melemah 0,03 persen
Yuan China melemah 0,05 persen
Rupee India melemah 0,08 persen
Pesso Filipina melemah 0,02 persen
Won Korea melemah 0,92 persen
Dolar Taiwan melemah 0,33 persen
Analis pasar keuangan, Lukman Leong, menyebut pergerakan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian di pasar keuangan global, termasuk gejolak geopolitik di Timur Tengah. Namun demikian, potensi penguatan masih ada tapi terbatas.
Sebab, sentimen domestik masih cenderung lemah di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini.
"Investor diprediksi mulai mengantisipasi kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ungkapnya.
Di sisi lain, dia menilai langkah kenaikan suku bunga oleh BI seharusnya dilakukan lebih awal untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Adapun suku bunga acuan BI saat ini berada di level 4,75 persen
"Naikkan suku bunga menurut saya agak telat, karena pemerintah sebelumnya ngotot pada kebijakan ekspansif dan meminta BI untuk mendukungnya. Namun, lebih baik telat daripada tidak," kata Lukman.