Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nyatanya Pelemahan Rupiah Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup di Pedesaan

Nyatanya Pelemahan Rupiah Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup di Pedesaan
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pelemahan rupiah berdampak langsung pada sektor pertanian, memicu kenaikan biaya produksi dan harga kebutuhan pokok di pedesaan meski sebagian warga tak bertransaksi dengan dolar.
  • Kenaikan harga pangan olahan dan energi akibat impor mahal membuat ongkos logistik meningkat, menekan daya beli masyarakat desa yang sudah menghadapi biaya distribusi tinggi.
  • Dampak pelemahan rupiah juga terasa di sektor kesehatan dan psikologis masyarakat, dengan biaya obat naik serta perilaku konsumsi yang makin hati-hati karena turunnya kepercayaan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan dampak bagi berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga di pedesaan.

Di tengah tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir sempat menyentuh level terendah, pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak terlalu terdampak pelemahan rupiah dinilai kurang tepat dan justru memunculkan kekhawatiran di pasar.

Sebab, meski sebagian warga desa tidak berhubungan langsung dengan transaksi dolar, dampak pelemahan rupiah tetap dapat dirasakan melalui kenaikan harga kebutuhan pokok hingga biaya produksi pertanian.

1. Dampak pelemahan rupiah akan cepat terasa di petani

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan dampak langsung pelemahan rupiah akan terasa pada sektor pertanian. Meski sebagian warga desa tidak berhubungan langsung dengan transaksi dolar, dampaknya tetap dapat dirasakan melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan biaya produksi pertanian.

"Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut naik. Memang sebagian ditahan subsidi, tetapi untuk pupuk non-subsidi dan kebutuhan pertanian lain, tekanan harganya relatif lebih cepat terasa," ungkap Yusuf kepada IDN Times, Senin (18/5/2026).

2. Harga di tingkat kosnumen akan dinaikkan

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Selain sektor pertanian, masyarakat desa juga berpotensi menghadapi kenaikan harga pangan olahan. Produk seperti mie instan dan roti bergantung pada gandum impor, sementara tahu dan tempe menggunakan kedelai yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri.

"Akibatnya, pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan sehari-hari meski masyarakat tidak menggunakan mata uang asing secara langsung," ucapnya.

3. Kenaikan impor energi dan kerek ongkos logistik

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Tekanan akibat pelemahan rupiah juga mulai merambah sektor energi dan distribusi. Kenaikan biaya impor energi membuat ongkos logistik ikut terdorong naik. Kondisi ini menjadi tantangan bagi wilayah perdesaan yang selama ini memang menghadapi biaya distribusi lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. Dampaknya, kenaikan biaya di tingkat hulu perlahan dapat diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

Namun demikian, ia menjelaskan dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi umumnya tidak terjadi secara instan, melainkan berlangsung bertahap dalam rentang enam hingga 12 bulan. Sementara itu, kenaikan pendapatan masyarakat biasanya bergerak lebih lambat dibandingkan laju kenaikan harga barang. Kondisi tersebut membuat daya beli riil masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, perlahan mengalami tekanan.

“Kelompok berpenghasilan rendah menjadi yang paling rentan terdampak karena sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan dan energi,” ujar Yusuf.

Tekanan serupa juga berpotensi terjadi di sektor kesehatan. Pasalnya, sebagian besar bahan baku farmasi dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor. Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, biaya produksi obat-obatan dan alat kesehatan diperkirakan ikut meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

4. Biaya obat menjadi mahal dan muncul efek psikologis

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Di bidang kesehatan, kondisi serupa juga berpotensi terjadi. Sebagian besar bahan baku farmasi dan alat kesehatan masih berasal dari impor. Jika nilai tukar terus melemah, biaya produksi obat-obatan dapat meningkat dalam beberapa waktu mendatang.

'Pengusaha besar umumnya masih memiliki kemampuan menahan kenaikan harga karena memiliki stok bahan baku dan kontrak pembelian jangka menengah. Namun bagi UMKM, distributor kecil, dan pedagang menengah, ruang untuk bertahan lebih terbatas. Dalam situasi rupiah yang terus melemah, penyesuaian harga biasanya dilakukan secara bertahap, baik melalui kenaikan harga langsung maupun pengurangan ukuran produk.

"Jika kenaikan harga mulai meluas di tingkat konsumen, tekanan terhadap inflasi berpotensi meningkat, terutama pada komoditas pangan, energi, dan barang dengan kandungan impor tinggi. Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia dinilai masih memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas inflasi agar tetap terkendali," tegasnya.

Selain dampak ekonomi langsung, Yusuf juga menyoroti efek psikologis dari pelemahan rupiah terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Menurutnya, masyarakat cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang ketika nilai tukar terus melemah.

“Orang mulai menunda belanja, menahan liburan, mengurangi konsumsi nonprimer, dan lebih hati-hati mengambil cicilan,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila kondisi tersebut terjadi secara bersamaan dalam jangka waktu lama, maka sektor ritel dan manufaktur berpotensi ikut melambat akibat menurunnya permintaan domestik.

“Jadi pelemahan kurs bukan hanya soal dolar mahal, tetapi juga soal turunnya rasa percaya diri ekonomi masyarakat,” kata Yusuf.


Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in Business

See More