Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Loyo hingga Penutupan, Parkir di Level Rp17.414 per Dolar AS
Ilustrasi mata uang Rupiah (freepik.com/skata)
  • Rupiah ditutup melemah di level Rp17.414 per dolar AS, turun 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
  • Sejumlah mata uang Asia ikut melemah, termasuk Bath Thailand, Rupee India, dan Won Korea yang masing-masing turun antara 0,70 hingga 0,84 persen.
  • Pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah akibat kebuntuan pembicaraan AS-Iran yang memicu kekhawatiran pasokan energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot ditutup melemah pada Senin (11/5/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.414 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.

1. Rincian mata uang Asia yang melemah

Hingga pukul 09.15 WIB, pergerakan mata uang di Asia kompak melemah, rinciannya

  • Bath Thailand melemah 0,70 persen

  • Ringgit Malaysia melemah 0,13 persen

  • Rupee India melemah 0,75 persen

  • Pesso Filipina melemah 0,84 persen

  • Won Korea melemah 0,70 persen

  • Dolar Singapura melemah 0,13 persen

2. Alasan rupiah melemah sepanjang hari ini

Analis Doo Financial Futures, Lukman memroyeksikan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, di tengah penguatan dolar dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah pembicaraan antara AS dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu," tegasnya.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah naik karena pasar mengantisipasi potensi terganggunya pasokan energi global.

3. Harga minyak mentah naik karena pasar antisipasi terganggunya pasokan energi

Ia mengatakan, kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah naik karena pasar mengantisipasi potensi terganggunya pasokan energi global.

"Penguatan harga minyak turut menopang pergerakan dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ucapnya.

Editorial Team