Analis pasar keuangan, Lukman Leong, mengatakan nilai tukar rupiah berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat di tengah meningkatnya sentimen risk-off global.
"Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terjadi seiring aksi jual besar-besaran pada berbagai instrumen keuangan mulai dari obligasi, saham, kripto, hingga mata uang negara berkembang," kata Lukman kepada IDN Times, Senin (18/5/2026).
Tekanan pasar dipicu kekecewaan investor terhadap hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dinilai belum memberikan solusi konkret atas konflik AS-Iran. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS.