- Pesso Filipina melemah 0,20 persen
- Taiwan Dolar AS melemah 0,13 persen
- Bath Thailand melemah 0,08 persen
- Yen Jepang melemah 0,07 persen
- Ringgit Malaysia melemah 0,04 persen
Rupiah Masih Keok Lawan Dolar AS ke Rp18.132 per Dolar AS

- Rupiah dibuka melemah ke level Rp18.132 per dolar AS, turun 96 poin atau 0,53 persen dibanding penutupan sebelumnya.
- Mayoritas mata uang Asia ikut melemah, namun rupiah tercatat paling dalam akibat penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- Analis menilai BI perlu rapat darurat untuk menaikkan suku bunga acuan 50–100 bps guna menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar.
1. Rincian mata uang di kawasan Asia
Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah, namun rupiah melemah paling dalam, rinciannya:
2. Rupiah berpotensi melemah hari ini karena sentimen AS
Analis pasar uang Lukman Leong mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut di pasar global.
Penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan pasar. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung dolar dan menekan rupiah," ujar Lukman, kepada IDN Times, Senin (8/6/2026).
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.000-Rp18.100 per dolar AS.
3. BI perlu naikkan suku bunga acuan
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Lukman menilai belum terdapat sentimen domestik yang cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah.
Oleh karena itu, ia menyarankan Bank Indonesia (BI) segera mengambil langkah antisipatif melalui rapat darurat guna merespons tekanan terhadap nilai tukar.
"Belum ada sentimen domestik yang mendukung penguatan rupiah. BI harus segera melakukan pertemuan darurat untuk menaikkan suku bunga," katanya.
Menurut Lukman, kenaikan suku bunga acuan yang diperlukan berada di kisaran 50 basis poin (bps) hingga 100 bps untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga kepercayaan pasar terhadap aset keuangan domestik.
Langkah tersebut, lanjutnya, diperlukan agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam di tengah menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.


















