Menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, pelemahan nilai tukar rupiah didorong oleh tiga faktor. Pertama, indeks dolar AS yang memang menguat usai data inflasi melampaui prediksi. Berdasarkan data BBC, angka inflasi di AS mencapai 3,8 persen, tertinggi dalam 3 tahun. Kondisi itu membuka peluang Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate(FFR).
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat setelah data inflasi AS yg lebih tinggi dari perkiraan,” tutur Lukman kepada IDN Times.
Di sisi lain, hasil pengumuman rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunjukkan, sebanyak enam saham Indonesia terdepak dari Global Standard Index, dan sebanyak 13 saham terdepak dari Global Small Cap Index. Kondisi itu menggangungkan sentimen negatif pada rupiah di pasar.
“Hal lain yang memberatkan rupiah adalah jumlah perusahaan yang didepak dari indeks MSCI pada rebalancing Mei 2026 jauh lebih banyak dari perkiraan awal pelaku pasar dan otoritas,” ucap Lukman.
Faktor ketiga, harga minyak mentah dunia yang juga terus terkerek akan membebani rupiah.