BI Buka Suara soal Rupiah Ambles ke Rp17.524 per Dolar AS

- Rupiah melemah ke Rp17.524 per dolar AS akibat kombinasi faktor global dan domestik, termasuk konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global.
- Dari sisi domestik, permintaan dolar meningkat karena pembayaran utang luar negeri, dividen, serta kebutuhan valas untuk ibadah haji yang bersifat musiman.
- Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah lewat smart intervention di pasar valuta asing, sambil mencatat capital inflow Rp61,6 triliun dan likuiditas valas yang masih memadai.
Jakarta, IDN Times - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Pergerakan mata uang Garuda sejak pembukaan hingga penutupan bergerak melemah dalam di antara negara di kawasan Asia. Bila mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke Rp17.524 per dolar AS atau lesu 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Destry mengatakan, tekanan terhadap rupiah meningkat akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang semakin tinggi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ketidakpastian global.
“Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena konflik di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry kepada IDN Times, Selasa (12/5/2026).
Dari sisi domestik, dia menjelaskan permintaan dolar AS meningkat secara musiman. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN), pembayaran dividen, hingga kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji.
Meski demikian, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut Destry, bank sentral akan melakukan smart intervention di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF), serta mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter.
“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF,” katanya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI juga melihat kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio domestik masih membaik. Hal itu tercermin dari aliran modal asing masuk (capital inflow), khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama April 2026 yang mencapai Rp61,6 triliun.
Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik dinilai masih memadai. Destry menyebut pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas hingga akhir Maret 2026 mencapai 10,9 persen secara tahunan.
BI pun memperkirakan tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman tersebut akan mereda sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak sesuai fundamentalnya.
“Semua aspek tentunya mempengaruhi pergerakan rupiah,” ujar Destry.



















