Jelang Pengumuman MSCI, Purbaya Percayakan Stabilitas Rupiah ke BI

- Pemerintah belum berencana menggelar rapat lanjutan KSSK menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI yang dinantikan pelaku pasar pada 13 Mei 2026.
- MSCI menyoroti aspek kemudahan investasi di Indonesia, terutama transparansi kepemilikan saham dan keterbukaan data free float, yang memengaruhi sentimen pasar domestik.
- Purbaya menegaskan stabilitas nilai tukar rupiah diserahkan kepada Bank Indonesia, sementara rupiah tercatat melemah ke Rp17.524 per dolar AS menurut data Bloomberg.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum berencana menggelar rapat lanjutan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dinantikan pelaku pasar pada Rabu (13/5/2026).
Sebelumnya, pada 28 Januari 2026, MSCI merilis penilaian terbaru terhadap pasar saham Indonesia. Dalam laporan tersebut, MSCI menyoroti aspek investability atau kemudahan investasi, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan keterbukaan data free float.
Keputusan MSCI membekukan perubahan klasifikasi indeks Indonesia menjadi perhatian serius pelaku pasar. Sentimen tersebut turut menekan pasar keuangan domestik dan memicu aliran modal asing keluar.
Di tengah dinamika tersebut, Purbaya mengatakan pemerintah menyerahkan langkah stabilisasi nilai tukar kepada Bank Indonesia sebagai otoritas yang berwenang menjaga stabilitas rupiah.
“Tidak, tidak,” ujar Purbaya pada Selasa (12/5/2026), saat ditanya apakah KSSK akan kembali berkumpul untuk merumuskan kebijakan baru menjelang pengumuman MSCI.
Dia menegaskan pemerintah percaya Bank Indonesia mampu mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah melalui instrumen kebijakan moneter yang dimiliki.
“Kita lihat, kita serahkan ke bank sentral, karena mereka yang berwenang untuk melakukan kebijakan nilai tukar, dan kita percaya mereka bisa mengendalikan nilai tukar,” kata dia.
Pergerakan mata uang Garuda sejak pembukaan hingga penutupan bergerak melemah dalam di antara negara di kawasan Asia. Bila mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke Rp17.524 per dolar AS atau lesu 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan kemarin.


















