Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi dolar Amerika (pexels.com/Kaboompics.com)
ilustrasi dolar Amerika (pexels.com/Kaboompics.com)

Intinya sih...

  • Mayoritas mata uang di Asia menguat, termasuk Bath Thailand, Ringgit Malaysia, dan Rupee India.

  • Rupiah melemah dipicu penguatan dolar AS setelah pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve.

  • Pasar menunggu hasil kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang akan ditandatangani pada 19 Februari 2026.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Rabu (18/2/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp16.884 per dolar AS.

Mata uang Garuda tercatat terdepresiasi sebesar 47 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

1. Mayoritas pergerakan mata uang di Asia sore ini menguat

Mata uang di Asia mayoritas bergerak menguat, dengan rincian sebagai berikut:

  • Bath Thailand menguat 0,09 persen

  • Ringgit Malaysia menguat 0,23 persen

  • Rupee India menguat 0,02 persen

  • Pesso Filipina menguat 0,17 persen

  • Won Korea menguat 0,04 persen

  • Yuan China melemah 0,05 persen

  • Dolar Taiwan melemah 0,12 persen

2. Alasan rupiah melemah sore ini

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah melemah terhadap dolar AS hari ini. Pelemahan dipicu penguatan mata uang Negeri Paman Sam.

Sentimen muncul setelah pernyataan hawkish sejumlah pejabat Federal Reserve semalam. Sikap itu memperkuat ekspektasi pasar. Pelonggaran moneter AS dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat.

"Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini," bebernya.

3. Pasar tunggu hasil kesepakatan tarif dagang

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menandatangani kesepakatan dagang timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu AS.

Finalisasi kesepakatan tersebut pun diperkirakannya akan ditunggu oleh pasar dan bisa menjadi sentimen tersendiri.

"Iya pasar dan investor akan melihat hasilnya dulu (kesepakatan final tarif dagang RI-AS)," ungkapnya.

Editorial Team