Tekanan Fiskal dan Data Ekonomi AS Seret Rupiah ke Rp16.828

- Rupiah ditutup melemah di Rp16.828 per dolar AS pada perdaganga Kamis (12/2/2026) sore
- Data tenaga kerja AS bikin dolar menguat, dan tekanan fiskal dinilai ikut membayangi rupiah
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2026). Rupiah ditutup di Rp16.828 per dolar AS.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah 42 poin atau 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.786 per dolar AS. Rupiah dibuka di Rp16.810 per dolar AS, dengan kisaran perdagangan harian Rp16.803-Rp16.842 per dolar AS.
1. Data tenaga kerja AS bikin dolar menguat
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan laporan utama ketenagakerjaan AS untuk Januari menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan.
Nonfarm Payrolls (NFP), yakni indikator jumlah tenaga kerja di luar sektor pertaniannaik 130 ribu, melampaui ekspektasi pasar sekitar 70 ribu dan berada di atas revisi kenaikan Desember sebesar 48 ribu. Dia juga menyebut tingkat pengangguran AS sedikit turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen.
Dari sisi pendapatan, pendapatan per jam rata-rata meningkat 0,4 persen secara bulanan (month to month/mom) pada Januari, naik dari 0,1 persen pada bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar 0,3 persen. Sementara itu, laju tahunan tercatat 3,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari ekspektasi 3,6 persen.
"Laporan pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat ini mengurangi urgensi untuk pemotongan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat dan dapat memberikan dukungan kepada dolar AS dalam jangka pendek," kata Ibrahim.
2. Tekanan fiskal dinilai ikut membayangi rupiah
Ibrahim juga menilai tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring meningkatnya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti.
Dalam APBN 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun, naik Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 sebesar Rp3.451,4 triliun. Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp3.149,7 triliun dan transfer ke daerah Rp693 triliun.
Dari total belanja pemerintah pusat, porsi terbesar dialokasikan untuk pembayaran bunga utang sekitar 19 persen, belum termasuk cicilan pokok utang. Anggaran besar juga dialokasikan untuk program makan bergizi gratis melalui Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar 8,51 persen. Di sisi penerimaan, pemerintah mematok defisit anggaran Rp689,14 triliun atau 2,68 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Sorotan utama tertuju pada rasio pembayaran pokok dan bunga utang terhadap penerimaan negara atau debt service ratio (DSR). Rasio ini diperkirakan menembus 40 persen, jauh di atas ambang batas aman internasional sekitar 30 persen," ujar Ibrahim.
3. Pelemahan rupiah diprediksi berlanjut pada Jumat
Pada perdagangan sore hari, rupiah ditutup melemah 42 poin, setelah sebelumnya sempat melemah 55 poin. Dalam rentang 52 minggu terakhir, rupiah bergerak di kisaran Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS, dengan penguatan sejak awal tahun 0,89 persen.
Untuk perdagangan pada Jumat (13/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap melemah di kisaran Rp16.820 hingga Rp16.850 per dolar AS.















