Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, pelaku pasar masih mewaspadai potensi terjadinya eskalasi pada konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Apalagi, Presiden AS, Donald Trump mengklaim telah melumpuhkan kekuatan militer Iran.
“Komentarnya meningkatkan kekhawatiran atas konflik AS-Iran yang berkepanjangan, yang dapat menyebabkan pasokan minyak melalui Timur Tengah terhenti,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, untuk menghadang pelemahan rupiah lebih dalam, Bank Indonesia (BI) menyatakan akan memaksimalkan instrumen-instrumen yang dimiliki.
“Intervensi dilakukan secara simultan dipasar offshore NDF, pasar spot, serta pasar domestik DNDF. Tidak hanya itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore,“ ucap Ibrahim.