Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Triyan Pangastuti)

Intinya sih...

  • Independensi BI dipastikan tak terganggu.

  • Pelemahan rupiah tak bisa cerminkan hasil fundamental ekonomi.

  • Rupiah diperkirakan akan menguat setelah spekulasi mereda.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesMenteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menanggapi spekulasi yang berkembang mengenai dampak penunjukan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terhadap pelemahan nilai tukar rupiah, yang pada sore ini tercatat mencapai Rp 16.955 per dolar AS.

Purbaya menegaskan penunjukan tersebut tidak akan mempengaruhi independensi BI, meskipun ada kekhawatiran di pasar tentang potensi intervensi pemerintah dalam kebijakan moneter BI. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan tiga nama calon untuk posisi Deputi Gubernur BI. Selain Thomas, dua nama lainnya yang diajukan adalah Solikin Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, dan Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI.

"Ini mungkin hanya spekulasi. Ketika Thomas masuk ke BI, ada yang khawatir independensi BI akan terganggu. Saya rasa itu tidak benar," ujar Purbaya di Gedung DPR RI, Senin (19/1/2026).

1. Independensi BI dipastikan tak terganggu

ilustrasi dolar Amerika (pexels.com/Kaboompics.com)

Purbaya menjelaskan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan BI fokus pada kebijakan moneter dan pemerintah pada kebijakan fiskal, namun keduanya tetap berkoordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memastikan kebijakan yang diambil dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

"Independensi BI tidak terganggu oleh spekulasi ini, kecuali jika ada campur tangan langsung dari pemerintah dalam pengambilan keputusan. Namun, selama ini tidak ada intervensi semacam itu. BI tetap independen, dan koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal terus berjalan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

2. Pelemahan rupiah tak bisa cerminkan hasil fundamental ekonomi

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Meskipun pada perdagangan hari ini rupiah mengalami pelemahan hampir menyentuh Rp 17.000 per dolar AS, Purbaya menilai penurunan tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. Pasalnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat pada hari ini menunjukkan adanya minat investasi asing yang positif.

“Rupiah tergantung pada fundamental ekonomi. Lihat saja IHSG yang mencetak rekor tertinggi. IHSG ditutup di level 9.133, yang menunjukkan adanya aliran modal asing. Itu artinya, bukan hanya faktor domestik yang mendorong kenaikan tersebut,” ujar Purbaya.

3. Rupiah diperkirakan akan menguat setelah spekulasi mereda

ilustrasi uang dolar Amerika (pexels.com/Lukasz Radziejewski)

Purbaya optimistis setelah spekulasi terkait penunjukan Thomas Djiwandono ke BI berakhir, nilai tukar Rupiah akan kembali menguat. Ia menegaskan bahwa dengan terus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat akan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah ke depan.

"Begitu spekulasi ini mereda, saya yakin Rupiah akan langsung menguat. Kami akan terus menjaga fondasi ekonomi untuk memastikan pertumbuhan yang lebih cepat di masa depan," imbuhnya.

Bila mengacu data Bloomerg, rupiah melemah paling dalam dibandingkan mata uang di Asia lainnya. Berikut rinciannya:

  • Rupee India melemah 0,12 persen

  • Pesso Filipina melemah 0,19 persen

  • Won Korea melemah 0,16 persen

  • Dolar Taiwan melemah 0,03 persen

Editorial Team