Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Melemah Seharian, Ditutup Nyaris Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS

Rupiah Melemah Seharian, Ditutup Nyaris Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS
ilustrasi mata uang rupiah (vecteezy.com/Miftachul Huda)
Intinya sih...
  • Rupiah melemah paling dalam dibandingkan mata uang Asia lainnya
  • Sentimen di pasar keuangan domestik meningkat karena faktor global dan domestik
  • Sentimen dari sisi eksternal masih berasal dari Presiden AS Donald Trump
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Nilai tukar atau kurs rupiah kembali ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (19/1/2025) sore. Ini seiring dengan meningkatnya tekanan di pasar keuangan global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp16.955 per dolar AS. Mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 68 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya, mencerminkan masih kuatnya sentimen negatif yang membebani pergerakan rupiah di pasar valuta asing.

1. Rupiah tercatat melemah paling dalam

Bila mengacu data Bloomberg, rupiah melemah paling dalam dibandingkan mata uang di Asia lainnya. Berikut rinciannya:

  • Rupee India melemah 0,12 persen
  • Pesso Filipina melemah 0,19 persen
  • Won Korea melemah 0,16 persen
  • Dolar Taiwan melemah 0,03 persen

2. Sentimen di pasar keuangan domestik meningkat

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Menurutnya, sentimen negatif dari dalam negeri cenderung meningkat, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan pemerintah serta kondisi fiskal Indonesia.

“Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap risiko jangka menengah yang dinilai semakin besar,” ujarnya.

Salah satu faktor utama adalah upaya pemerintah dalam mendukung agenda pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang ditargetkan mencapai 8 persen pada 2029. Untuk mencapai target ambisius tersebut, pemerintah diperkirakan akan menerapkan sejumlah kebijakan yang relatif tidak lazim. Langkah ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko ekonomi jangka menengah, sehingga mendorong sikap kehati-hatian pelaku pasar dan memperburuk sentimen terhadap rupiah.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah semakin menguat setelah terungkap pada 8 Januari 2026, defisit anggaran tahun sebelumnya mendekati batas hukum sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kondisi ini diperparah oleh lemahnya penerimaan negara, sehingga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia,” kata Ibrahim.

Bank Indonesia (BI), lanjutnya, sejatinya telah menempuh berbagai langkah intervensi untuk meredam volatilitas nilai tukar. Otoritas moneter secara rutin melakukan pembelaan rupiah, baik melalui pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF). Namun, toleransi BI terhadap pelemahan rupiah yang masih dianggap moderat dinilai membatasi efektivitas intervensi tersebut.

“Guna menopang stabilitas rupiah, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan yang digelar pada Rabu ini. Selain itu, bank sentral juga mengerahkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari penyesuaian penerbitan surat berharga Bank Indonesia, intervensi di pasar valuta asing, hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder,” tuturnya.

3. Sentimen dari sisi eksternal masih berasal dari Presiden AS Donald Trump

Sementara itu, dari sisi eksternal, pasar masih mencermati langkah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyatakan akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencananya agar Amerika Serikat mengakuisisi Greenland. Kebijakan ini berpotensi memicu ketegangan baru dalam hubungan dagang transatlantik.

"Amerika Serikat akan mengenakan tarif sebesar 10 persen terhadap barang-barang impor dari negara-negara yang terdampak mulai 1 Februari. Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni mendatang apabila tidak tercapai kesepakatan dengan negara-negara terkait," ungkapnya.

Sejumlah negara besar Eropa masuk dalam daftar target, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, bersama beberapa negara Nordik dan Eropa Utara. Pengumuman ini langsung menuai kritik keras dari para pejabat Eropa dan memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Di sisi lain, sentimen pasar global juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS tidak selemah yang sebelumnya diperkirakan, sehingga membuat para pelaku pasar semakin ragu, Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.

Berdasarkan kontrak berjangka dana Fed, ekspektasi pemangkasan suku bunga berikutnya kini bergeser ke Juni dan September, dari perkiraan sebelumnya pada Januari dan April. Pergeseran ini memperkuat pandangan bank sentral AS berpotensi mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama.

"Kombinasi ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan proteksionis, serta prospek suku bunga global yang tetap tinggi diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan pasar keuangan dunia dalam waktu dekat," tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

IHSG Tancap Gas, Tembus Level ATH Lagi 9.133,87

19 Jan 2026, 16:50 WIBBusiness