Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Saham Energi yang Ikut Terdorong oleh Kebutuhan Listrik AI
ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (pexels.com/Pixabay)
  • IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data global naik dari sekitar 485 terawatt-jam pada 2025 menjadi 950 terawatt-jam pada 2030, seiring ekspansi AI.

  • Constellation dan Vistra mengandalkan pasokan nuklir melalui kontrak jangka panjang dengan Google dan Meta, sementara NextEra menyiapkan pembangkit gas serta baterai untuk proyek pusat data.

  • GE Vernova mendapat permintaan teknologi pembangkit dan AEP memperluas jaringan listrik; peluang sektor energi tetap dibayangi biaya investasi, operasional, pendanaan, dan regulasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan artificial intelligence (AI) tidak hanya meningkatkan kebutuhan chip dan layanan komputasi. Teknologi ini juga membutuhkan pasokan listrik besar untuk menjalankan pusat data yang memproses dan menyimpan informasi. Kondisi tersebut membuka peluang bisnis bagi perusahaan energi dan penyedia infrastruktur kelistrikan.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data global dapat meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam pada 2025 menjadi 950 terawatt-jam pada 2030. Kenaikan tersebut membuat perusahaan teknologi semakin membutuhkan sumber listrik yang andal untuk mendukung ekspansi AI. Berikut lima saham energi yang ikut terdorong oleh kebutuhan listrik AI.

1. Constellation Energy (CEG) mengandalkan pembangkit nuklir

Constellation Energy (constellationenergy.com)

Constellation Energy merupakan salah satu perusahaan pembangkit listrik terbesar di Amerika Serikat dengan portofolio yang mencakup pembangkit nuklir. Sumber energi ini menarik bagi operator pusat data karena dapat menghasilkan listrik secara stabil tanpa bergantung pada kondisi cuaca. Kebutuhan listrik yang terus berjalan membuat pembangkit nuklir berpotensi memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan industri AI.

Pada Oktober 2026, Google menyepakati perjanjian pasokan listrik dengan Constellation berkapasitas total sekitar 3.590 megawatt dari berbagai sumber di jaringan listrik PJM. Kesepakatan tersebut mencakup kontrak listrik nuklir selama 20 tahun dengan kapasitas 890 megawatt. Kerja sama ini menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi mulai menjalin kemitraan jangka panjang untuk mengamankan pasokan listrik bagi kebutuhan komputasi mereka.

2. Vistra (VST) memperluas kapasitas pembangkit nuklir

Vistra (vistracorp.com)

Vistra merupakan perusahaan energi yang mengoperasikan pembangkit listrik, termasuk fasilitas nuklir dan gas alam. Perusahaan ini berpeluang memanfaatkan peningkatan permintaan listrik dari pusat data karena memiliki aset pembangkit yang dapat memasok energi dalam jumlah besar. Selain itu, Vistra dapat meningkatkan kapasitas fasilitas yang sudah ada tanpa harus selalu membangun pembangkit baru.

Vistra telah menjalin perjanjian pasokan listrik nuklir selama 20 tahun dengan Meta untuk mendukung kebutuhan energi perusahaan teknologi tersebut. Pada Oktober 2026, pemerintah Amerika Serikat juga mengumumkan rencana pinjaman sekitar US$4,2 miliar untuk membantu meningkatkan produksi listrik nuklir Vistra. Meski begitu, biaya operasional, kebutuhan investasi, dan gangguan pada pembangkit tetap dapat memengaruhi keuntungan perusahaan.

3. NextEra Energy (NEE) menyiapkan pasokan untuk pusat data

NextEra Energy (nexteraenergy.com)

NextEra Energy bergerak di bisnis utilitas listrik dan pengembangan energi, termasuk pembangkit berbahan bakar gas serta energi terbarukan. Perusahaan ini melihat ekspansi pusat data sebagai peluang untuk mengembangkan kapasitas pembangkit baru. Kombinasi pasokan listrik dan penyimpanan energi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pelanggan yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Pada Juli 2026, NextEra dan Brookfield mengumumkan rencana pengembangan pusat data senilai US$100 miliar di Kentucky. Proyek tersebut direncanakan memiliki kapasitas komputasi lebih dari 1,2 gigawatt, dengan NextEra menyiapkan pembangkit gas hingga 2 gigawatt dan penyimpanan baterai hingga 2,6 gigawatt. Namun, realisasi proyek tetap bergantung pada penyelesaian perjanjian, pembangunan infrastruktur, dan kebutuhan pendanaan.

4. GE Vernova (GEV) memasok teknologi pembangkit listrik

Ge Vernova (gevernova.com)

GE Vernova berbeda dari perusahaan yang hanya menjual listrik kepada konsumen. Perusahaan ini memasok teknologi pembangkit, termasuk turbin gas, serta peralatan untuk jaringan kelistrikan. Ketika kebutuhan listrik meningkat, operator pembangkit dan utilitas dapat membutuhkan lebih banyak peralatan untuk menambah kapasitas dan memperkuat jaringan.

Pada Juli 2026, GE Vernova menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya seiring meningkatnya permintaan dan pesanan di bisnis pembangkit listrik. Perusahaan juga memperkirakan kapasitas turbin gas yang telah dikontrak mencapai sedikitnya 125 gigawatt pada akhir tahun tersebut. Meski peluang bisnisnya terbuka, hasil keuangan GE Vernova juga dipengaruhi oleh biaya produksi, kemampuan memenuhi pesanan, dan kinerja segmen bisnis lainnya.

5. American Electric Power (AEP) memperkuat jaringan listrik

American Electric Power (aep.com)

American Electric Power merupakan perusahaan utilitas yang mengoperasikan jaringan transmisi dan distribusi listrik di Amerika Serikat. Pertumbuhan pusat data tidak hanya membutuhkan tambahan pembangkit, tetapi juga jaringan yang mampu menyalurkan listrik dari sumbernya ke lokasi penggunaan. Karena itu, perusahaan utilitas dengan kebutuhan investasi jaringan yang besar dapat ikut terlibat dalam perkembangan infrastruktur AI.

AEP telah meningkatkan rencana belanja modal untuk memperluas infrastruktur listrik di tengah lonjakan permintaan dari pusat data. Perusahaan juga melaporkan pertumbuhan kesepakatan pasokan listrik untuk pusat data, yang mencerminkan kebutuhan kapasitas baru dari perusahaan teknologi. Namun, proyek jaringan memerlukan waktu dan dana besar, sementara perubahan aturan tarif serta biaya listrik bagi pelanggan dapat memengaruhi pelaksanaannya.

Kebutuhan listrik AI membuka peluang bagi perusahaan pembangkit, utilitas, dan pemasok peralatan kelistrikan. Kondisi tersebut membuat saham energi yang ikut terdorong oleh kebutuhan listrik AI berpotensi meraup keuntungan. Meski demikian, investor tetap perlu menilai valuasi saham, kebutuhan belanja modal, utang, dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari pertumbuhan permintaan tersebut. Tren AI dapat mendukung prospek bisnis, tetapi tidak menjamin bahwa harga saham setiap perusahaan akan terus meningkat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article