Ketegangan militer di Timur Tengah memengaruhi ketersediaan energi di Bangladesh sejak awal 2026. Sebagai negara yang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan gas dari wilayah tersebut, pasokan energi Bangladesh bergantung pada kelancaran rute Selat Hormuz. Hambatan pada jalur laut ini menyebabkan penundaan pengiriman energi, yang berdampak pada keterbatasan stok bahan bakar di dalam negeri. Pemerintah setempat pun mengambil langkah kebijakan penyesuaian untuk merespons situasi ini.
Saat ini, terjadi antrean kendaraan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar dengan perkiraan waktu tunggu mencapai 12 jam. Pengemudi di Dhaka, ibu kota Bangladesh, melaporkan mereka harus bermalam di kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar. Menteri Energi Bangladesh, Iqbal Hasan Mahmud menyampaikan penyesuaian harga perlu dilakukan untuk menjaga cadangan devisa negara di tengah kenaikan harga minyak dunia.
"Banyak negara sudah melakukan penyesuaian harga bahan bakar. Situasi ini terjadi karena dinamika global, dan kita perlu menghemat penggunaan energi bersama-sama," kata Mahmud, dilansir Channel News Asia.
Kenaikan harga bahan bakar diesel sebesar 15 persen ini turut memengaruhi sektor transportasi dan logistik. Perubahan harga solar mendorong pengusaha angkutan darat dan kapal laut untuk meminta penyesuaian tarif transportasi. Kenaikan biaya ini berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok karena bertambahnya biaya pengiriman hasil pertanian dari desa ke kota.