Rencana efisiensi pemerintah ini mendapat perhatian khusus dari serikat pekerja dan partai oposisi. Duane Leo, Sekretaris Nasional Public Service Association (PSA) menilai kebijakan tersebut berpotensi menurunkan kualitas layanan publik yang sudah berjalan.
"Penghematan anggaran tersebut berpotensi mengurangi dana untuk layanan masyarakat. Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas dan memperlambat waktu pelayanan," kata Leo.
Analisis dari pihak PSA mencatat, karena ada 10 lembaga yang dikecualikan, beban pengurangan pekerja akan sepenuhnya ditanggung oleh 30 lembaga lainnya. Di lembaga yang terkena dampak, diperkirakan cukup banyak pekerja yang berisiko kehilangan pekerjaannya.
"Langkah ini berisiko memengaruhi kinerja lembaga yang bertugas menjaga keselamatan warga, melindungi batas negara, membangun jalan, dan menangani keadaan darurat," ujar Leo.
Sementara itu, Pemimpin Oposisi dari Partai Buruh, Chris Hipkins memberikan tanggapan terkait jaminan pemerintah bahwa pemangkasan tidak akan mempengaruhi layanan utama masyarakat. Ia menilai, pengurangan jumlah pekerja tetap akan membawa penyesuaian pada tingkat pelayanan.
"Pemberhentian pekerja publik dalam jumlah besar ini dinilai akan tetap berdampak pada pelayanan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat," kata Hipkins, dilansir Macau Daily Times.