Pelemahan rupiah juga dipicu oleh kenaikan indeks dolar AS sebagai respons atas hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang secara umum menunjukkan sikap hawkish. Hawkish adalah istilah untuk menggambarkan kebijakan bank sentral yang cenderung ketat, seperti sinyal kenaikan suku bunga, guna menekan inflasi.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia terpantau kembali melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan terus memblokade Selat Hormuz. Jalur distribusi energi yang sangat krusial tersebut akan tetap ditutup hingga tercapainya kesepakatan nuklir yang baru.
"Kenaikan indeks dolar AS merespon hasil FOMC yang secara umum hawkish, dan harga minyak dunia yang kembali naik setelah Trump mengatakan akan terus memblokade Hormuz hingga ada kesepakatan nuklir," tuturnya.