Rupiah Terperosok ke 17.326, Investor Cemaskan Isu UEA dan Danantara

- Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.326 per dolar AS, turun 83 poin akibat tekanan pasar global pada akhir perdagangan Rabu (29/4/2026).
- Keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC memicu sentimen negatif di pasar minyak dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
- Fitch Ratings memangkas outlook utang Indonesia menjadi negatif karena kekhawatiran tata kelola Danantara, membuat investor semakin waspada terhadap risiko investasi domestik.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026). Rupiah terpaksa melemah melawan mata uang Negara Paman Sam.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 83 poin ke level Rp17.326 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 95 poin dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.243.
1. Dampak keputusan UEA keluar dari OPEC
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti sentimen negatif yang muncul dari keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk meninggalkan organisasi produsen minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).
Langkah tersebut, yang akan berlaku efektif pada Jumat (1/5/2026), dipandang sebagai pukulan besar bagi kelompok produsen minyak tersebut, terutama di tengah gangguan pasokan yang terus berlanjut akibat perang Iran.
"Pasar mempertimbangkan dampak keputusan Uni Emirat Arab untuk meninggalkan kelompok produsen OPEC," katanya.
2. Fitch Ratings soroti kekhawatiran investor terhadap Danantara
Investor mengkhawatirkan Danantara setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings memangkas outlook atau pandangan prospek utang Indonesia dari sebelumnya stabil menjadi negatif pada Maret 2026 lalu.
"Lembaga pemeringkat utang Fitch Rating menjelaskan sejumlah kekhawatiran investor terhadap Danantara," ujar Ibrahim.
Kekhawatiran itu muncul lantaran adanya isu tata kelola di mana pelaporan Danantara yang langsung kepada Presiden dinilai terlalu terkonsentrasi. Selain itu, investor mencemaskan potensi Danantara digunakan untuk membiayai program-program pemerintah guna menutup celah antara anggaran negara dan kebutuhan belanja.
Dalam penilaiannya, Fitch menyoroti posisi Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF), dana abadi milik negara yang seharusnya dikelola untuk investasi komersial.
Jika ekspektasi komersial tersebut meleset akibat keputusan investasi yang lebih didorong oleh kepentingan politik atau kebutuhan anggaran daripada mengejar keuntungan (imbal hasil), pasar menilai hal ini berisiko menciptakan ketidakpastian bagi para investor.
3. Proyeksi kurs rupiah di perdagangan Kamis
Untuk perdagangan Kamis (30/4/2026), mata uang rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah. Rupiah diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp17.320 hingga Rp17.380 per dolar AS.

















