Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sentimen MSCI Tekan IHSG, Begini Proyeksi Bursa Pekan Depan

2 min read
Sentimen MSCI Tekan IHSG, Begini Proyeksi Bursa Pekan Depan
ilustrasi saham (unsplash.com/Anne Nygård)
  • IHSG diperkirakan konsolidasi dengan kecenderungan menguat, meski pergerakannya masih dipengaruhi sentimen global dan evaluasi MSCI.

  • Indonesia tetap berstatus Emerging Market selama konsultasi MSCI berlangsung hingga keputusan akhir diumumkan paling lambat pada akhir Juni 2027.

  • Wall Street melemah, sementara bursa Eropa menguat dan harga minyak naik di tengah berbagai sentimen global.

  • Wall Street melemah akibat aksi jual saham teknologi AI, sementara bursa Eropa menguat dan harga minyak melonjak karena risiko geopolitik serta gangguan pasokan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Analis pasar modal Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang konsolidasi dengan kecenderungan menguat pekan depan. Pergerakan indeks masih akan dipengaruhi sentimen global dan ketidakpastian terkait evaluasi MSCI Inc terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia.

"IHSG pekan ini berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 5,063 sampai level 4,820 dan resistance di level 5,404 sampai level 5,804," katanya kepada IDN Times, Minggu (18/10/2026).

  1. 1. Pelaku pasar dinilai tak perlu panik

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (unsplash.com/Tötös Ádám)

    IHSG dan rupiah melemah setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.

    Pengumuman tersebut belum menjadi keputusan final. MSCI membuka konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan akhir paling lambat pada akhir Juni 2027. Selama proses tersebut berlangsung, Indonesia masih berstatus Emerging Market.

    "Pelaku pasar harusnya lebih tenang dan tidak panik menyikapi pengumuman MSCI ini," ujar dia.

  2. 2. Indeks Wall Street menjadi sorotan

    ilustrasi Wall Street, New York, Amerika Serikat
    ilustrasi Wall Street, New York, Amerika Serikat (unsplash.com/Lo Lo)

    Tiga indeks utama Wall Street melemah pada akhir pekan seiring aksi jual saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

    Investor khawatir perusahaan pengelola pusat data yang memiliki utang besar tidak mampu menghasilkan keuntungan sesuai harapan untuk memenuhi kewajiban pembiayaannya di tengah kenaikan biaya pinjaman.

    "Saat ini pelaku pasar menantikan rilis laporan keuangan pekan depan dari raksasa teknologi. Peluang the Fed menaikkan bunga di Oktober menurun, tetapi ada peluang sebesar 90 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember," ujar Hans.

  3. 3. Bursa Eropa menguat

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/AlphaTradeZone)

    Berbeda dengan Wall Street, bursa saham Eropa menguat karena sentimen positif dari proyeksi laporan keuangan kuartal III perusahaan. Laba bersih konsolidasi perusahaan yang tergabung dalam indeks STOXX 600 diproyeksikan berpotensi meningkat 20,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III.

    "Bursa saham Eropa menguat akibat sentimen positif kuatnya rilis laporan keuangan kuartal III dari korporasi domestik," tuturnya.

  4. 4. Harga minyak naik

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (unsplash.com/Austin Distel)

    Harga minyak naik tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan akibat kekhawatiran terhadap eskalasi baru, termasuk potensi serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi.

    Serangan Iran di sekitar Selat Hormuz juga meningkat dalam 10 hari terakhir sebagai balasan atas pengetatan sanksi dan blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat. Premi risiko geopolitik di pasar energi tetap tinggi menyusul laporan tenggelamnya satu kapal kontainer dan satu kapal kargo curah kering akibat proyektil di dekat Selat Hormuz.

    "Sentimen negatif pasokan minyak diperparah Ukraina yang menghentikan sepihak gencatan senjata sektor energi dengan Rusia," kata Hans.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More