Ilustrasi Utang/William Poter
Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, memastikan bahwa masalah pelunasan utang proyek Whoosh telah selesai setelah mendapatkan komitmen dari Presiden Prabowo Subianto.
"Sudah, sudah beres. Waktu itu, Presiden sudah bilang. Sudah beres, sudah beres," kata Bobby dengan yakin di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/2).
Bobby menambahkan pemerintah saat ini tengah merumuskan tata laksana pembayarannya. "Pokoknya sudah beres, selesai," ujar Bobby sambil berlalu.
Sebagai informasi, total utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) mencapai Rp120,38 triliun. Sebanyak 75 persen dari modal proyek tersebut dibiayai oleh China Development Bank (CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.
Total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS), lebih besar dari target awal yang hanya 6 miliar dolar AS. Dengan demikian, biaya proyek Whoosh membengkak sebesar 1,2 miliar dolar AS, atau sekitar Rp20,05 triliun (dengan kurs Rp16.707,5 per dolar AS).
Pembayaran biaya tambahan atau cost overrun dirancang dengan skema 60 persen dan 40 persen, di mana 60 persen atau setara dengan 720 juta dolar AS akan dibayar oleh konsorsium Indonesia, sementara 40 persen atau senilai 480 juta dolar AS akan dibayar oleh konsorsium China.
Konsorsium Indonesia terdiri dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang memiliki 60 persen saham dalam proyek Whoosh. Konsorsium ini terdiri dari empat BUMN, yaitu KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII. Dalam konsorsium ini, KAI menjadi pemegang saham mayoritas.