Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Petugas melakukan pengecekan pada rangkaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh. (dok. KCIC)
Petugas melakukan pengecekan pada rangkaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh. (dok. KCIC)

Intinya sih...

  • Pemerintah membuka opsi untuk menggunakan APBN untuk pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) sebesar Rp1,2 triliun per tahun.

  • Belum ada keputusan final terkait penggunaan APBN untuk bayar utang Whoosh.

  • Pemerintah tengah urus tata laksana pembayarannya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah belum memutuskan secara final terkait skema pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), termasuk isu yang menyebutkan bahwa seluruh kewajiban utang proyek tersebut akan ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan dirinya masih menunggu petunjuk dari Presiden Prabowo Subianto mengenai skema pembayaran utang Kereta Cepat Indonesia-China atau Whoosh 100 persen memakai APBN.

"Saya masih menunggu petunjuk lebih lanjut. Kalau ada petunjuk dari Presiden, saya akan segera kerjakan. Saat ini, belum ada," ujar Purbaya dikutip, Kamis (19/2/2026).

1. Belum ada keputusan final terkait penggunaan APBN untuk bayar utang Whoosh

ilustrasi utang (pexels.com/Kindel Media)

Saat ditanya apakah utang Whoosh akan sepenuhnya dibayar menggunakan APBN, Purbaya menegaskan belum ada keputusan yang jelas. Menurutnya, arahan yang ada saat ini masih bersifat sementara dan belum final.

"Belum tahu. Belum ada petunjuk khusus dari Presiden. Yang ada baru arahan dari Rosan, tapi itu belum jelas," ucapnya.

2. Total utang Whoosh sentuh Rp1,2 triliun per tahun

Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (WNA) pengguna Kereta Cepat Whoosh pada periode Januari hingga Oktober 2025. (Dok. PT KCIC)

Sebelumnya, pemerintah membuka opsi untuk menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh. Hal itu menyusul komitmen Presiden Prabowo Subianto yang akan membayar utang Whoosh sebesar Rp1,2 triliun per tahun.

“Iya (pakai APBN),” kata Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi usai konferensi pers stimulus Ramadan-Idul Fitri, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Prasetyo mengatakan, teknis pelunasan utang Whoosh sedang difinalisasi. Adapun negosiasinya dipimpin oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani.

“Kemarin laporan terakhir, rapat di Danantara, jadi masih ada finalisasi. Dan sekarang proses negosiasi atau Pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara,” ucap Prasetyo.

3. Pemerintah tengah urus tata laksana pembayarannya

Ilustrasi Utang/William Poter

Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, memastikan bahwa masalah pelunasan utang proyek Whoosh telah selesai setelah mendapatkan komitmen dari Presiden Prabowo Subianto.

"Sudah, sudah beres. Waktu itu, Presiden sudah bilang. Sudah beres, sudah beres," kata Bobby dengan yakin di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/2).

Bobby menambahkan pemerintah saat ini tengah merumuskan tata laksana pembayarannya. "Pokoknya sudah beres, selesai," ujar Bobby sambil berlalu.

Sebagai informasi, total utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) mencapai Rp120,38 triliun. Sebanyak 75 persen dari modal proyek tersebut dibiayai oleh China Development Bank (CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.

Total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS), lebih besar dari target awal yang hanya 6 miliar dolar AS. Dengan demikian, biaya proyek Whoosh membengkak sebesar 1,2 miliar dolar AS, atau sekitar Rp20,05 triliun (dengan kurs Rp16.707,5 per dolar AS).

Pembayaran biaya tambahan atau cost overrun dirancang dengan skema 60 persen dan 40 persen, di mana 60 persen atau setara dengan 720 juta dolar AS akan dibayar oleh konsorsium Indonesia, sementara 40 persen atau senilai 480 juta dolar AS akan dibayar oleh konsorsium China.

Konsorsium Indonesia terdiri dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang memiliki 60 persen saham dalam proyek Whoosh. Konsorsium ini terdiri dari empat BUMN, yaitu KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII. Dalam konsorsium ini, KAI menjadi pemegang saham mayoritas.

Editorial Team