APBN Bakal Dipakai Bayar Utang Whoosh Rp1,2 T per Tahun

- Pemerintah akan menggunakan APBN untuk membayar utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh sebesar Rp1,2 triliun per tahun.
- Teknis pelunasan utang Whoosh sedang difinalisasi dan negosiasinya dipimpin oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani.
- Total utang kereta cepat mencapai Rp120,38 triliun dengan 75 persen modal proyek dibiayai oleh China Development Bank.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh. Hal itu menyusul komitmen Presiden Prabowo Subianto yang akan membayar utang Whoosh sebesar Rp1,2 triliun per tahun.
“Iya (pakai APBN),” kata Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi usai konferensi pers stimulus Ramadan-Idul Fitri, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Prasetyo mengatakan, teknis pelunasan utang Whoosh sedang difinalisasi. Adapun negosiasinya dipimpin oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani.
“Kemarin laporan terakhir, rapat di Danantara, jadi masih ada finalisasi. Dan sekarang proses negosiasi atau Pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara,” ucap Prasetyo.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin memastikan permasalahan pelunasan utang Whoosh sudah usai setelah mendapatkan komitmen dari Prabowo.
“Sudah, sudah beres kan, waktu itu Presiden sudah bilang. Sudah beres, sudah beres,” kata Bobby dengan yakin, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/2).
Bobby mengatakan, pemerintah sedang merumuskan tata laksana pembayarannya.
“Tata laksananya lagi dibicarakan dengan pemerintah, sedang dirumuskan. Pokoknya sudah beres, selesai,” ucap dia sambil berlalu.
Sebagai informasi, total utang kereta cepat mencapai Rp120,38 triliun. Sebesar 75 persen modal proyek tersebut dibiayai oleh China Development Bank (CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.
Total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Sementara, target awal hanya 6 miliar dolar AS. Dengan demikian, biaya proyek Whoosh bengkak 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp20,05 triliun (kurs Rp16.707,5 per dolar AS).
Pembayaran cost overrun dirancang dengan skema 60 persen dan 40 persen, di mana sebesar 60 persen atau 720 juta dolar AS dibayar oleh konsorsium Indonesia, dan 40 persen atau senilai 480 juta dolar AS dibayar konsorsium China.
Konsorsium Indonesia ialah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang memiliki 60 persen saham di proyek Whoosh. Konsorsium itu terdiri dari empat BUMN, yakni KAI, PT Wijaya Karya (Persero) tbk atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII. Dalam konsorsium itu, KAI menjadi pemegang saham mayoritas.
















