Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tanpa Turis, Ekonomi Negara-negara Ini Bisa Langsung Ambruk Seketika
ilustrasi Aruba (unsplash.com/Lex Melony)
  • Banyak negara sangat bergantung pada pariwisata, bahkan beberapa seperti Andorra memperoleh lebih dari 70 persen PDB-nya dari pengeluaran wisatawan internasional.

  • Negara kepulauan kecil seperti Aruba, Maladewa, dan Seychelles menjadikan turisme sebagai sumber devisa utama, namun rentan terhadap krisis global yang menghentikan arus wisatawan.

  • Meski pariwisata menciptakan lapangan kerja dan infrastruktur, ketergantungan berlebihan menimbulkan risiko ekonomi besar sehingga banyak negara mulai diversifikasi sektor agar lebih tangguh.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika membicarakan sektor pariwisata, banyak orang menganggapnya hanya sebagai industri hiburan yang berkaitan dengan liburan dan perjalanan. Padahal, bagi sejumlah negara di dunia, kehadiran wisatawan menjadi sumber pemasukan utama yang menopang roda perekonomian. Uang yang dibelanjakan turis mengalir ke hotel, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, hingga usaha kecil milik masyarakat lokal.

Tanpa kedatangan wisatawan, pendapatan negara bisa menyusut drastis dalam waktu singkat. Data UN Tourism menunjukkan beberapa negara bahkan memperoleh lebih dari setengah produk domestik bruto (PDB) mereka dari aktivitas pariwisata internasional. Kondisi ini membuat sektor wisata menjadi berkah sekaligus risiko besar bagi perekonomian mereka.

1. Andorra, negara kecil yang hidup dari wisatawan

ilustrasi Andorra (unsplash.com/Di Ya)

Andorra menempati posisi teratas sebagai negara yang paling bergantung pada pariwisata di dunia. Menurut data UN Tourism, penerimaan dari wisatawan internasional mencapai sekitar 71,8 persen dari total PDB negara tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa hampir tiga perempat aktivitas ekonomi Andorra berasal dari uang yang dibelanjakan para pelancong.

Letaknya yang berada di Pegunungan Pyrenees, di antara Spanyol dan Prancis, menjadikan Andorra tujuan populer untuk wisata ski dan belanja. Banyak lapangan pekerjaan di negara ini berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan sektor wisata. Jika jumlah turis turun drastis, pendapatan bisnis lokal, penerimaan pajak, serta kesempatan kerja dapat terdampak secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat.

2. Aruba dan Maladewa, surga wisata yang sangat rentan

ilustrasi Aruba (unsplash.com/Lex Melony)

Aruba dan Maladewa menjadi contoh negara yang berhasil membangun ekonomi berbasis destinasi wisata kelas dunia. Di Aruba, penerimaan dari wisatawan internasional setara dengan sekitar 70,3 persen PDB. Sementara itu, Maladewa mencatat kontribusi sekitar 68 persen terhadap perekonomian nasional.

Pantai berpasir putih, resor mewah, serta keindahan laut menjadi daya tarik utama kedua negara tersebut. Namun, ketergantungan yang sangat tinggi membuat mereka rentan terhadap gangguan eksternal. Saat pandemi COVID-19 menyebabkan penerbangan berhenti dan perbatasan ditutup, banyak negara yang bergantung pada wisata mengalami kontraksi ekonomi yang tajam karena sumber pemasukan utama mereka mendadak menghilang.

3. Negara-negara kepulauan kecil yang menggantungkan nasib pada wisata

ilustrasi Seychelles (unsplash.com/Paweł Wielądek)

Selain Aruba dan Maladewa, terdapat sejumlah negara kepulauan kecil lain yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap wisatawan asing. Seychelles memperoleh sekitar 55,4 persen PDB dari pariwisata, Saint Lucia mencapai 51 persen, sedangkan Antigua dan Barbuda berada di angka 39,9 persen. Bahamas juga mencatat kontribusi yang sangat besar, yakni sekitar 34,1 persen.

Kondisi ini terjadi karena negara-negara kecil sering kali memiliki keterbatasan sumber daya alam, jumlah penduduk yang sedikit, serta basis industri yang gak terlalu besar. Pariwisata menjadi cara paling cepat untuk mendatangkan devisa dari luar negeri. Wisatawan gak hanya menginap di hotel, tapi juga menggunakan transportasi lokal, makan di restoran, membeli suvenir, dan menikmati berbagai layanan lainnya yang menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

4. Bahkan ekonomi besar juga bisa sangat bergantung pada turisme

ilustrasi Bangkok, Thailand (unsplash.com/Dan Freeman)

Ketergantungan terhadap pariwisata bukan hanya ditemukan pada negara kecil. Di kelompok negara dengan PDB di atas 100 miliar dolar AS, Uni Emirat Arab menjadi salah satu yang paling bergantung pada sektor ini. Data menunjukkan bahwa penerimaan wisata internasional menyumbang sekitar 10,3 persen PDB negara tersebut.

Portugal dan Maroko juga mencatat kontribusi yang tinggi, masing-masing sekitar 9,6 persen dan 9,2 persen. Thailand berada di angka 8,5 persen, sedangkan Spanyol mencapai 6,2 persen. Angka tersebut mungkin terlihat lebih rendah dibanding negara kepulauan kecil, tapi nilainya sangat besar karena berasal dari ekonomi yang ukurannya jauh lebih besar. Penurunan jumlah wisatawan dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari penerbangan, perhotelan, hingga perdagangan ritel.

5. Ketergantungan pada turisme membawa peluang sekaligus risiko

ilustrasi traveling dengan tour guide (unsplash.com/Bernie Almanzar)

Pariwisata memberikan banyak manfaat bagi suatu negara. Sektor ini menghasilkan devisa, menciptakan lapangan kerja, mendukung pertumbuhan usaha lokal, serta mendorong pembangunan infrastruktur seperti bandara, jalan, dan transportasi umum. Negara yang berhasil menarik banyak wisatawan juga biasanya mendapatkan konektivitas internasional yang lebih baik.

Meski demikian, ketergantungan berlebihan terhadap wisata memiliki konsekuensi yang gak bisa diabaikan. Ketika terjadi krisis global, bencana alam, konflik geopolitik, atau pembatasan perjalanan, pemasukan negara dapat menurun drastis. Selain itu, lonjakan wisatawan yang terlalu besar juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, meningkatkan biaya hidup masyarakat lokal, dan membebani infrastruktur publik. Karena alasan tersebut, banyak pemerintah kini berupaya melakukan diversifikasi ekonomi dengan mengembangkan sektor digital, jasa modern, atau industri lain supaya gak hanya bergantung pada kedatangan turis.

Pariwisata memang mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat. Bagi negara seperti Andorra, Aruba, Maladewa, hingga sejumlah negara kepulauan kecil lainnya, sektor ini bahkan menjadi tulang punggung utama perekonomian.

Namun, semakin besar ketergantungan terhadap wisatawan, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi ketika terjadi gangguan perjalanan global. Tantangan terbesar bagi negara-negara tersebut bukan hanya menarik lebih banyak turis, melainkan juga membangun ekonomi yang lebih beragam dan tangguh agar gak gampang goyah ketika jumlah pengunjung tiba-tiba menurun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team