ilustrasi pasar tradisional di China (pexels.com/Wong Peter)
Sebagian ekonom menilai perlambatan ekonomi China bukan semata-mata disebabkan oleh perang Iran. Kepala ekonom China di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard, menjelaskan bahwa perlambatan ini juga dipengaruhi oleh perubahan target pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis dari pemerintah China. Dengan target yang lebih rendah, pemerintah dinilai memiliki ruang yang lebih besar untuk menggambarkan kondisi ekonomi sebenarnya.
Ia juga menilai perlambatan yang terjadi belum tentu mencerminkan penurunan ekonomi secara mendadak. Beberapa indikator ekonomi pada Juni justru mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan sehingga masih ada peluang pemulihan apabila permintaan domestik terus membaik. Meski demikian, perkembangan konflik global dan kondisi konsumsi masyarakat tetap akan menjadi faktor penting yang menentukan arah ekonomi China pada bulan-bulan berikutnya.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi China menunjukkan bahwa tantangan ekonomi saat ini gak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dipengaruhi kondisi global seperti perang Iran dan kenaikan harga energi. Walaupun ekspor masih mencatatkan pertumbuhan yang sangat kuat, lemahnya konsumsi masyarakat dan belum pulihnya sektor properti membuat laju ekonomi belum mampu memenuhi target pemerintah.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan ekonomi dunia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi sangat dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan. Ke depan, keberhasilan China memperkuat permintaan domestik dan menghadapi ketidakpastian global akan menjadi kunci untuk mengembalikan pertumbuhan ekonominya ke jalur yang lebih kuat.