Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Target Meleset! Ekonomi China Tumbuh Lambat akibat Perang Iran

Target Meleset! Ekonomi China Tumbuh Lambat akibat Perang Iran
ilustrasi ekonomi China (vecteezy.com/Bigc Studio)
Intinya Sih
  • PDB China hanya tumbuh 4,3 persen pada kuartal kedua, gagal mencapai target tahunan dan menjadi perlambatan terendah sejak akhir 2022 akibat lemahnya permintaan domestik.
  • Perang Iran memicu kenaikan harga minyak dunia yang menekan biaya produksi industri China, membuat banyak perusahaan kesulitan menjaga aktivitas bisnis di tengah daya beli masyarakat yang lemah.
  • Meskipun ekspor melonjak hingga 27 persen berkat permintaan global terhadap produk teknologi dan kendaraan listrik, konsumsi serta sektor properti domestik masih belum cukup kuat menopang pertumbuhan ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ekonomi China kembali menjadi sorotan setelah pertumbuhan ekonominya melambat pada kuartal kedua tahun ini. Padahal, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut masih mencatat lonjakan ekspor yang cukup tinggi.

Perlambatan ini dipengaruhi oleh kombinasi lemahnya permintaan di dalam negeri dan dampak perang Iran yang ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Akibatnya, target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan pemerintah China kembali gagal tercapai.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kuatnya ekspor saja belum cukup untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi ketika tantangan domestik masih cukup besar. Karena itu, menarik untuk melihat bagaimana langkah pemerintah China dalam beberapa bulan ke depan untuk menjaga pertumbuhan ekonominya tetap berada di jalur yang diharapkan.

1. Pertumbuhan ekonomi China gagal mencapai target

ilustrasi China, pejalan kaki, crowd, perkotaan
ilustrasi China, pejalan kaki, crowd, perkotaan (pexels.com/dongfang xiaowu)

Data resmi menunjukkan produk domestik bruto (PDB) China hanya tumbuh 4,3 persen pada periode April hingga Juni. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada kuartal pertama dan juga berada di bawah target pertumbuhan tahunan yang telah ditetapkan pemerintah. Perlambatan ini menjadi yang terendah sejak akhir 2022, ketika China mulai bangkit setelah pembatasan ketat akibat pandemi COVID-19 berakhir.

Meski begitu, pemerintah China menilai kondisi ekonomi saat ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global. Biro Statistik Nasional China menjelaskan bahwa berbagai faktor eksternal membuat tekanan terhadap perekonomian semakin besar. Selain itu, masih terjadi ketidakseimbangan antara kapasitas produksi yang tinggi dengan permintaan domestik yang belum mampu mengimbanginya.

2. Perang Iran ikut memberikan tekanan ekonomi

ilustrasi perang, militer, angkatan bersenjata, prajurit
ilustrasi perang, militer, angkatan bersenjata, prajurit (vecteezy.com/Turo Jantunen)

Salah satu faktor yang paling banyak disorot adalah dampak perang Iran terhadap harga energi dunia. Konflik tersebut menyebabkan harga minyak mengalami kenaikan sehingga biaya produksi berbagai industri ikut meningkat. Saat biaya operasional naik, banyak perusahaan harus mengeluarkan pengeluaran yang lebih besar untuk mempertahankan aktivitas bisnisnya.

Menurut analis pasar dari platform investasi IG, Fabien Yip, banyak perusahaan di China akhirnya memilih menanggung kenaikan biaya energi dan bahan baku karena daya beli masyarakat masih terlalu lemah untuk menerima kenaikan harga produk. Ia juga menjelaskan bahwa tekanan terhadap dunia usaha bisa semakin berat apabila konflik Iran berlangsung lebih lama. Situasi ini membuat pemulihan ekonomi menjadi lebih sulit dibandingkan perkiraan sebelumnya.

3. Permintaan dalam negeri masih menjadi tantangan

ilustrasi street market di China, pasar
ilustrasi street market di China, pasar (pexels.com/Shang Zhou)

Selain tekanan dari luar negeri, China juga masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi di dalam negeri. Pasar properti yang belum pulih sepenuhnya terus menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, belanja masyarakat juga belum kembali kuat meskipun terdapat sedikit perbaikan pada data penjualan ritel.

Harga rumah baru di China masih mengalami penurunan pada bulan Juni, walaupun laju penurunannya mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, penjualan ritel berhasil tumbuh 1 persen setelah sempat mengalami penurunan pada Mei. Perbaikan tersebut memberi sinyal positif, tapi belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan ekonomi secara menyeluruh karena konsumsi masyarakat masih cenderung berhati-hati.

4. Lonjakan ekspor belum mampu menutupi kelemahan ekonomi

ilustrasi mobil listrik
ilustrasi mobil listrik (unsplash.com/P. L.)

Di tengah perlambatan ekonomi, sektor ekspor justru menunjukkan performa yang sangat baik. Ekspor China pada Juni melonjak hingga 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Permintaan global terhadap berbagai produk teknologi buatan China menjadi salah satu pendorong utama kenaikan tersebut.

Ekspor semikonduktor meningkat seiring tingginya kebutuhan pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai negara. Selain itu, permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) asal China juga terus meningkat hingga membuat ekspor mobil menembus lebih dari satu juta unit dalam satu bulan untuk pertama kalinya. Sayangnya, pertumbuhan ekspor yang kuat belum mampu sepenuhnya mengimbangi lemahnya konsumsi dan investasi di dalam negeri.

5. Sejumlah analis melihat perlambatan ini gak sepenuhnya mengejutkan

ilustrasi pasar tradisional di China
ilustrasi pasar tradisional di China (pexels.com/Wong Peter)

Sebagian ekonom menilai perlambatan ekonomi China bukan semata-mata disebabkan oleh perang Iran. Kepala ekonom China di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard, menjelaskan bahwa perlambatan ini juga dipengaruhi oleh perubahan target pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis dari pemerintah China. Dengan target yang lebih rendah, pemerintah dinilai memiliki ruang yang lebih besar untuk menggambarkan kondisi ekonomi sebenarnya.

Ia juga menilai perlambatan yang terjadi belum tentu mencerminkan penurunan ekonomi secara mendadak. Beberapa indikator ekonomi pada Juni justru mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan sehingga masih ada peluang pemulihan apabila permintaan domestik terus membaik. Meski demikian, perkembangan konflik global dan kondisi konsumsi masyarakat tetap akan menjadi faktor penting yang menentukan arah ekonomi China pada bulan-bulan berikutnya.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi China menunjukkan bahwa tantangan ekonomi saat ini gak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dipengaruhi kondisi global seperti perang Iran dan kenaikan harga energi. Walaupun ekspor masih mencatatkan pertumbuhan yang sangat kuat, lemahnya konsumsi masyarakat dan belum pulihnya sektor properti membuat laju ekonomi belum mampu memenuhi target pemerintah.

Bagi kamu yang mengikuti perkembangan ekonomi dunia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi sangat dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan. Ke depan, keberhasilan China memperkuat permintaan domestik dan menghadapi ketidakpastian global akan menjadi kunci untuk mengembalikan pertumbuhan ekonominya ke jalur yang lebih kuat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More