Kurangi Impor, Bio Farma Bangun Ekosistem Vaksin Hulu-Hilir

- Bio Farma meluncurkan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat buatan dalam negeri untuk memperkuat kemandirian produksi vaksin dan mengurangi ketergantungan impor.
- Vaksin Bio-TCV ditargetkan tidak hanya memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga diekspor ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin melalui proses WHO Prequalification.
- Pengembangan ekosistem vaksin dilakukan bersama International Vaccine Institute dan akademisi FKUI-RSCM, mencakup riset hingga produksi guna memperluas akses serta memperkuat sistem kesehatan nasional.
Jakarta, IDN Times – PT Bio Farma (Persero) meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), sebuah vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri. Peluncuran itu sebagai bagian dari pembangunan ekosistem vaksin mandiri dari hulu dan hilir untuk mengurangi ketergantungan impor vaksin.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar mengatakan pengalaman pandemik COVID-19 menjadi pelajaran penting bagi ketahanan nasional.
"Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan," ujar Taruna dikutip Jumat, (17/7/2026).
1. Menekan tingginya beban kasus tifoid di dalam negeri

Indonesia hingga saat ini masih berstatus sebagai negara endemis tifoid. Data menunjukkan, prevalensi tifoid di dalam negeri diperkirakan mencapai 1,6 persen dari populasi, dengan angka kejadian sekitar 148,7 per 100 ribu penduduk.
Dengan beban kasus yang tinggi tersebut, vaksin Bio-TCV yang diproduksi mandiri menjadi solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional tanpa harus terus-menerus mengandalkan produk impor.
2. Bidik ekspor ke Asia hingga Amerika Latin

Bio Farma menyatakan, pengembangan kapasitas produksi vaksin dari hulu ke hilir berbasis teknologi konjugasi ditargetkan untuk membuka peluang ekspansi ke pasar luar negeri, khususnya ke negara-negara dengan beban penyakit tinggi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Langkah itu ditempuh melalui proses WHO Prequalification serta registrasi di berbagai negara untuk memperkuat portofolio vaksin nasional di kancah global.
3. Mempercepat inovasi vaksin

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya mengatakan, dalam proses pengembangan ekosistem vaksin dari hulu ke hilir itu pihaknya bekerja sama dengan mitra global International Vaccine Institute (IVI). Kerja sama itu telah dijalankan sejak 2010 yang diikuti dengan transfer teknologi pada 2013.
Di sektor domestik, Bio Farma bekerja sama dengan akademisi dari FKUI-RSCM untuk melaksanakan uji klinis fase I, II, dan III.
"Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," kata Shadiq.


















